ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Konsep ḥalāl dan ṭayyib dalam Al-Qur’an menjadi salah satu fondasi utama dalam ajaran Islam mengenai konsumsi pangan. Kedua konsep tersebut tidak hanya berkaitan dengan ketentuan syariat mengenai keabsahan suatu makanan, tetapi juga mencerminkan pentingnya mutu, kebersihan, keamanan, nilai gizi, serta manfaatnya bagi kesehatan jasmani dan rohani. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemahaman Al-Qur’an mengenai makanan ḥalāl dan ṭayyib melalui pendekatan tafsir tematik (mauḍū‘ī), sekaligus menelaah keterkaitannya dengan implementasi Program Makan Bergizi Gratis sebagai salah satu kebijakan pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan dengan pendekatan kualitatif yang memanfaatkan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai sumber utama, khususnya QS. Al-Baqarah ayat 168, QS. Al-Mā’idah ayat 88, dan QS. An-Naḥl ayat 114, yang dianalisis bersama berbagai literatur tafsir sebagai sumber pendukung. Hasil kajian menunjukkan bahwa istilah ḥalāl mengacu pada aspek legalitas makanan menurut syariat Islam, baik dari sisi zat maupun cara memperolehnya, sedangkan konsep ṭayyib memiliki cakupan yang lebih luas, meliputi kualitas pangan, kebersihan, kandungan nutrisi, keamanan konsumsi, serta pengaruhnya terhadap kesehatan fisik dan pembentukan spiritual manusia. Dengan demikian, Al-Qur’an menegaskan bahwa makanan yang layak dikonsumsi adalah makanan yang memenuhi dua kriteria sekaligus, yaitu sah menurut hukum Islam dan memberikan manfaat nyata bagi kesehatan. Dalam kaitannya dengan Program Makan Bergizi Gratis, prinsip tersebut menjadi dasar penting agar makanan yang disediakan tidak sekadar memenuhi standar kecukupan gizi, tetapi juga sesuai dengan nilai-nilai ḥalāl dan ṭayyib. Penerapan kedua prinsip tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat sekaligus memperkuat internalisasi nilai-nilai keagamaan. Oleh sebab itu, penelitian ini menegaskan pentingnya mengintegrasikan ajaran Al-Qur’an dengan perkembangan ilmu gizi dalam penyusunan kebijakan pangan nasional guna mewujudkan generasi yang sehat, tangguh, dan berkarakter mulia.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Abstract. Penelitian ini dilatarbelakangi meningkatnya problem pengasuhan dalam keluarga, seperti lemahnya komunikasi, kekerasan, dan ketidakseimbangan antara kontrol serta kasih sayang. Di sisi lain, konsep authoritative parenting dipandang efektif, namun masih memerlukan landasan nilai yang sesuai dengan konteks keluarga Muslim. Penelitian ini bertujuan menganalisis penafsiran ayat-ayat kisah Nabi Ibrahim AS serta mengidentifikasi nilai-nilai pola asuh authoritative yang terkandung di dalamnya dan relevansinya bagi pengasuhan kontemporer. Metode yang digunakan adalah penelitian kepustakaan dengan pendekatan kualitatif melalui tafsir tematik (maudhu‘i). Data primer berupa ayat-ayat Al-Qur’an tentang kisah Nabi Ibrahim AS, sedangkan data sekunder berasal dari kitab tafsir, buku, dan jurnal ilmiah terkait parenting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kisah Nabi Ibrahim AS memuat tiga nilai utama pengasuhan, yaitu keteladanan sebagai dasar otoritas moral, komunikasi dialogis-partisipatif sebagai bentuk penghargaan terhadap anak, dan orientasi spiritual melalui doa sebagai fondasi pendidikan. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan karakteristik authoritative parenting yang menekankan keseimbangan antara ketegasan dan kehangatan, bahkan melampauinya melalui dimensi tauhid. Penelitian ini menegaskan bahwa kisah Nabi Ibrahim AS relevan dijadikan model pengasuhan keluarga Muslim masa kini karena mampu menghadirkan pola asuh yang seimbang, humanis, dan religius.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian berjudul “Interpretasi Ayat-Ayat Sains dalam Al-Qur’an (Studi Tematik Tafsir Klasik dan Tafsir Kontemporer Mengenai Bentuk Bumi)” ini dilatarbelakangi oleh pentingnya dialog antara wahyu dan ilmu pengetahuan modern, khususnya dalam memahami ayat-ayat kauniyyah yang menggambarkan fenomena alam semesta. Isyarat ilmiah tentang bentuk bumi dalam Al-Qur’an menjadi kajian menarik karena mencerminkan keterpaduan antara teks suci dan pengetahuan empiris manusia. Penelitian ini bertujuan menganalisis ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan bentuk bumi dalam perspektif tafsir klasik dan kontemporer, dengan fokus pada pemikiran Imam Fakhruddin ar-Razi dalam Mafātīḥ al-Ghayb dan Tantawi Jauhari dalam Al-Jawāhir fī Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm. Metode yang digunakan ialah tafsir tematik (maudhu‘i) melalui pengumpulan ayat-ayat relevan seperti Q.S. An-Nāzi‘āt [79]: 30, Al-Ghāshiyah [88]: 20, An-Naba’ [78]: 6, dan Adz-Dzāriyāt [51]: 48; analisis linguistik terhadap kata kunci seperti dahāhā, mihād, dan farashnāhā; serta kajian makna kontekstual berdasarkan penafsiran kedua mufasir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Imam ar-Razi menafsirkan ayat-ayat tersebut melalui pendekatan filosofis-kosmologis yang dipengaruhi paradigma geosentris abad pertengahan, namun tetap membuka kemungkinan bentuk bumi yang bulat. Sementara itu, Tantawi Jauhari, sebagai mufasir kontemporer, menggunakan pendekatan ilmiah-empiris yang selaras dengan temuan sains modern, menegaskan bumi sebagai bulat dan berotasi, serta menjadikannya bukti i‘jāz ‘ilmī Al-Qur’an. Perbedaan keduanya tidak menunjukkan kontradiksi, melainkan menggambarkan dinamika epistemologi tafsir yang terus berkembang sesuai kemajuan ilmu pengetahuan dan konteks zaman. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa Al-Qur’an bersifat transhistoris, terbuka terhadap perkembangan sains, dan mendorong integrasi antara wahyu dan akal dalam memahami fenomena alam ciptaan Allah.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini mengkaji penafsiran Surah Al-Qadr melalui pendekatan studi komparatif terhadap dua karya tafsir: Tafsir Rûh al-Ma’ânî karya Al-Alusi (w. 1854 M) dan Tafsīr Sūrah Al-Qadr karya Ahmad Yasin Asymuni (w. 2021). Kajian ini bertolak dari kesenjangan dalam literatur tafsir komparatif Indonesia yang belum secara mendalam mempertemukan dua tradisi penafsiran berbeda yaitu tradisi intelektual Baghdad abad ke-19 dan tradisi pesantren Nusantara abad ke-20. Penelitian ini berjenis pustaka (library research) dengan metode deskriptif-analitis dan analisis komparatif. Sumber data primer terdiri atas kedua kitab tafsir tersebut, sedangkan sumber sekunder mencakup literatur tafsir dan kajian Al-Qur'an yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa Al-Alusi menafsirkan Surah Al-Qadr dengan pendekatan analitis-komparatif yang mengintegrasikan dalil naqli, rasionalitas, dan pendapat ulama lintas mazhab, sementara Ahmad Yasin Asymuni menekankan dimensi sufistik dan transformasi batin dalam memaknai malam Lailatulqadar. Persamaan keduanya terletak pada pengakuan atas keagungan malam Lailatulqadar dan penggunaan metode tafsir bi al-ma’tsur wa bi al-ra’yi. Perbedaan mendasarnya terletak pada orientasi epistemologis yaitu Al-Alusi cenderung pada validasi ilmiah, sedangkan Asymuni menekankan penghayatan spiritual.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini dilatar belakangi oleh berkembangnya tafsir lisan Al-Qur’an di media sosial, khususnya melalui YouTube. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan tafsir lisan Ustaz Adi Hidayat terhadap Q.S. Aḍ-Ḍuḥā yang disampaikan melalui kanal YouTube (Adi Hidayat Official), dan untuk mengidentifikasi serta menganalisis karakteristik tafsir lisan Q.S. Aḍ-Ḍuḥā oleh Ustaz Adi Hidayat berdasarkan teori kelisanan Walter J. Ong. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analitis. Data primer terdiri dari video kajian tafsir Q.S. Aḍ-Ḍuḥā yang diunggah pada 7 Juni 2024, sedangkan data sekunder diperoleh dari buku Orality and Literacy: The The Technologizing of The Word dan berbagai literatur yang terkait. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penafsiran Ustaz Adi Hidayat tentang Q.S. Aḍ-Ḍuḥā bersifat kontekstual dan aplikatif dengan menekankan pesan spiritual berupa ketenangan, optimis, dan keyakinan bahwa Allah tidak meninggalkan hamba-Nya. Selain itu, tafsir tersebut mengandung karakteristik kelisanan seperti aditif, agregatif, redundan, konservatif, empatis atau partisipatif, situasional, dan humeostatis, sementara karakter agonistic tidak dominan. Dengan demikian, tafsir lisan di media sosial memiliki peran penting dalam penyampaikan pemahaman Al-Qur’an secara komunikatif dan relevan bagi kehidupan kontemporer.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji akhlak berpakaian muslimah dalam Al-Qur’an melalui pendekatan tafsir maqāṣidī. Hal ini dilatarbelakangi oleh pesatnya perkembangan teknologi di era modern yang turut memengaruhi dunia fashion, sehingga mendorong terjadinya pergeseran antara tren berpakaian muslimah yang cenderung lebih menekankan aspek estetika dan gaya dibandingkan nilai-nilai syariat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan studi kepustakaan (library research) untuk membatasi kajian serta memperoleh pemahaman yang komprehensif tentang akhlak berpakaian muslimah dalam Al-Qur’an. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akhlak berpakaian muslimah dalam Al-Qur’an tidak hanya berorientasi pada aspek fisik, tetapi juga mengandung dimensi moral dan spiritual yang mendalam. Prinsip tersebut meliputi kewajiban menutup aurat, tidak ketat dan transparan, menjaga kesederhanaan, serta menghindari tabarruj. Dalam analisis maqāṣidī, ketentuan berpakaian mencerminkan tujuan syariat yang komprehensif, yaitu menjaga agama (ḥifẓ al-dīn), menjaga jiwa (ḥifẓ al-nafs), dan menjaga keturunan (ḥifẓ al-nasl). Selain itu, nilai-nilai fundamental yang terkandung dalam ayat-ayat tersebut meliputi nilai ketakwaan (at-taqwā), tanggung jawab (al-mas’ūliyyah), dan kebebasan (al-ḥurriyyah) yang bersifat terarah dan bertanggung jawab.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini mengkaji konsep interaksi sosial asosiatif dalam Al-Qur’an melalui analisis komparatif terhadap penafsiran Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsīr al-Munīr dan M. Quraish Shihab dalam Tafsīr al-Miṣbāḥ, serta menelaah relevansinya dengan teori interaksi sosial menurut Ahmad Siddiq dan soerjono soekanto. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya memahami nilai-nilai sosial Qur’ani dalam membangun hubungan sosial yang harmonis di tengah masyarakat modern saat ini. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan tafsir komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep interaksi sosial asosiatif dalam Al-Qur’an tercermin dalam nilai ta‘āwun (kerja sama), ta‘āruf (saling mengenal), dan tanggung jawab sosial, sebagaimana termuat dalam ayat-ayat ijtimā‘iyyah. Kedua mufasir memiliki kesamaan bahwa interaksi sosial harus berlandaskan kebaikan dan ketakwaan. Perbedaannya, Wahbah Az-Zuhaili lebih menekankan aturan dan konsekuensi hukum, sedangkan M. Quraish Shihab lebih menekankan nilai kemanusiaan dan penerapannya dalam kehidupan sekarang. Lebih lanjut, konsep tersebut memiliki relevansi yang kuat dengan pemikiran Ahmad Siddiq melalui Trilogi Ukhuwwah serta teori interaksi sosial asosiatif Soerjono Soekanto. Dengan demikian, nilai sosial dalam Al-Qur’an dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk membangun masyarakat yang rukun, harmonis, dan saling menghargai.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) merupakan salah satu dampak psikologis dari tingginya intensitas penggunaan media sosial yang memicu kecemasan, perasaan tertinggal, serta kecenderungan individu untuk membandingkan diri dengan orang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an dalam Tafsīr Marāḥ Labīd karya Nawawi al-Bantani yang berkaitan dengan konsep ketenangan batin, sekaligus merumuskan pendekatan Living Qur’an sebagai respons Qur’ani terhadap fenomena FOMO. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research). Data utama bersumber dari Tafsīr Marāḥ Labīd, sementara data pendukung diperoleh dari berbagai literatur ilmiah yang relevan dengan konsep Living Qur’an dan FOMO. Proses analisis dilakukan melalui metode content analysis terhadap penafsiran ayat-ayat yang memuat nilai-nilai dzikir, tawakal, dan qana’ah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penafsiran dalam Tafsīr Marāḥ Labīd menegaskan tiga nilai utama, yakni dzikir sebagai dasar kesadaran spiritual, tawakkal sebagai mekanisme pengelolaan diri, serta qana’ah sebagai bentuk penerimaan diri yang proporsional, yang secara terpadu berkontribusi dalam membentuk ketenangan batin. Dalam perspektif Living Qur’an, nilai-nilai tersebut dapat diinternalisasikan dalam kehidupan sehari-hari sehingga mampu mereduksi kecemasan dan tekanan sosial yang muncul akibat budaya digital. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa ajaran Al-Qur’an tetap memiliki relevansi sebagai sumber solusi spiritual dalam menjaga keseimbangan psikologis masyarakat di era digital.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kemajuan teknologi informasi pada era digital telah memunculkan berbagai persoalan etika dalam komunikasi, seperti penyebaran hoaks, misinformasi, dan ujaran kebencian. Fenomena ini menegaskan pentingnya penerapan prinsip verifikasi informasi dalam kehidupan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep akhlak tabayyun dalam Al-Qur’an melalui pendekatan tafsir maqāṣidī, serta menjelaskan urgensinya dalam pembentukan etika komunikasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan, yang menjadikan Al-Qur’an dan kitab-kitab tafsir sebagai sumber utama, serta didukung oleh berbagai literatur ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tabayyun tidak hanya dipahami sebagai proses verifikasi secara teknis, tetapi juga sebagai prinsip akhlak yang berorientasi pada tujuan-tujuan syariat (maqāṣid al-syarī‘ah), seperti menjaga akal, kehormatan, dan stabilitas sosial. Oleh karena itu, internalisasi nilai-nilai tabayyun menjadi kebutuhan yang mendasar dalam menghadapi derasnya arus informasi di era digital.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Meritokrasi merupakan sistem penempatan individu dalam jabatan atau peran berdasarkan kemampuan, prestasi, dan kelayakan, bukan karena hubungan kekerabatan, status sosial, atau kepentingan tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi tafsir ayat-ayat meritokrasi dalam Al-Qur’an melalui pendekatan tafsir kontekstual Abdullah Saeed serta menganalisis relevansinya terhadap sistem kepemimpinan meritokratis kontemporer. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Data primer berupa ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan meritokrasi, sedangkan data sekunder diperoleh dari karya-karya Abdullah Saeed, kitab tafsir, buku, jurnal, dan kajian akademik yang relevan. Analisis data dilakukan secara deskriptif-analitis melalui empat langkah tafsir kontekstual Abdullah Saeed. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meritokrasi dalam Al-Qur’an tidak hanya menekankan kemampuan dan prestasi, tetapi juga integritas, karakter, empati, dan tanggung jawab moral. QS. Al-Qaṣaṣ [28]:26 menekankan kompetensi dan amanah, QS. Al-Isrā’ [17]:84 menegaskan kesesuaian peran dengan karakter individu, dan QS. At-Taubah [9]:128 menghadirkan model kepemimpinan yang empatik dan penuh kasih sayang. Dengan demikian, meritokrasi dalam perspektif Al-Qur’an menawarkan paradigma kepemimpinan yang holistik, etis, dan relevan bagi tata kelola organisasi maupun pemerintahan kontemporer.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
This study examines the interpretation of Surah Al-Fātiḥah delivered by Abdul Somad on YouTube as a form of digital oral exegesis within the context of the development of contemporary da„wah media. By employing the oral exegesis approach proposed by Andreas Gorke, this study analyzes the performative, contextual, and interactive characteristics present in the lecture “Tadabbur Surah Al-Fātiḥah” using a qualitative descriptive–analytical method based on video transcription and literature review. The findings reveal that the interpretation presented not only includes linguistic explanations and references to classical scholarly traditions such as comparisons of various madhhab perspectives and qirā‟āt, but is also conveyed through rhetorical strategies, analogies, narratives, and responses to the audience‟s contemporary concerns, thereby positioning tafsir as a dialogical and adaptive form of religious communication. This is indicated by the way verses 1–4 of Surah Al-Fātiḥah are connected to the everyday problems experienced by the audience. These findings affirm that digital tafsir represents a continuation of the classical oral exegetical tradition within a new medium while also reflecting the evolving epistemology of Qur‟anic interpretation that is increasingly open and relevant to the dynamics of contemporary Muslim society. This study contributes to strengthening the position of oral tafsir as a contextual Islamic reference and demonstrates that oral exegesis can be critically examined and evaluated in terms of its scholarly validity.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Parenting penting untuk dibahas melihat fenomena yang kerap muncul berhubungan dengan anak cukup segnifikan sebagai salah satu faktor munculnya permasalahan disebabkan adanya kesalahan dalam pola asuh orang tua. Al-Qur’an dianggap dapat mengintegrasikan hubungan orang tua dan anak melalui interaksi, komunikasi, sikap dan keteladanan yang dianggap sebagai parenting. Tujuan dari penelitian ini dalam rangka mengeksplorasi prinsip-prinsip pengasuhan dalam Al-Qur’an dengan menggunakan tafsir al-Taḥrīr wa al-Tanwīr Ibnu ‘Āsyūr sebagai landasan interpretasi. Penelitian difokuskan pada ayat-ayat yang menguraikan interaksi melalui dialog antar orang tua dan anak, serta pola asuh yang merefleksikan pendekatan demokrasi (otoritatif) dan keteladanan (uswah) pada surah Hud [11]:42–43, Yusuf [12]:4–5, Maryam [19]:42–43, ash-Shaffat [37]:102, dan Luqman [31]:17–19. Penelitian kualitatif ini dianalisis secara tematik dengan mengintegrasikan pendekatan metode Mustofa Muslim dan pendekatan maqāṣīdi. Hasil penelitian memaparkan metode pengasuhan secara efektif dilakukan dengan mempraktekkan pola asuh demokrasi dan keteladanan orang tua dengan pertimbangan tingkat usia. Ibrahim, Nuh, Ya’qub, dan Luqman menunjukkan pola pengasuhan dalam AL-Qur’an melalui interaksi dialog antara orang tua dan anak secara demokratis dan teladan yang baik. Melalui gambaran dan cerita ini maka menjadi motivasi bagi setiap orang tua di luar sana bahwa pola pengasuhan yang baik dapat mempengaruhi karakter tumbuh kembang seorang anak di masa depan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Abstrak: Konsep self healing dalam Al-Qur’an memiliki relevansi kuat dalam menjawab persoalan kesehatan mental dan spiritual manusia modern. Penelitian ini mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan self healing melalui analisis komparatif tafsir Al-Kasyâf karya Al-Zamakhsyari dan tafsir Al-Munîr karya Wahbah Az-Zuhaili. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap pemaknaan ayat-ayat self healing, pendekatan penafsiran yang digunakan, serta relevansinya terhadap upaya pemulihan jiwa. Pemilihan judul didasarkan pada perbedaan karakter metodologis kedua tafsir, di mana Al-Kasyâf menekankan aspek kebahasaan dan rasionalitas, sementara Al-Munîr mengintegrasikan pendekatan normatif, sosial, dan psikologis. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research) serta pendekatan tafsir tematik (maudhu‘i) dan komparatif. Data diperoleh dari ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan ketenangan jiwa, kesabaran, dzikir, dan tawakal, serta sumber literatur pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa self healing dalam perspektif Al-Qur’an dipahami sebagai proses pemulihan jiwa yang holistik dan berkelanjutan melalui penguatan spiritual, kesadaran rasional, dan kedekatan kepada Allah. Kedua tafsir saling melengkapi dalam menegaskan dimensi transendental dan praktis dari konsep self healing Islami.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Waktu merupakan elemen fundamental dalam ajaran Islam yang memiliki dimensi teologis, filosofis, dan praktis. Al-Qur’an secara eksplisit mengangkat tema waktu dalam berbagai ayat, menunjukkan urgensinya dalam kehidupan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep waktu dalam Al-Qur’an melalui pendekatan tafsir tematik, dengan menitikberatkan pada penafsiran dalam Tafsir al-Munir karya Wahbah az-Zuhaili dan Tafsir Ilmi Kementerian Agama Republik Indonesia. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan tematik (maudhū‘i), yakni dengan mengumpulkan dan menganalisis ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan waktu. Waktu diposisikan sebagai anugerah dari Allah untuk dikelola dan dimanfaatkan sekaligus ujian bagi manusia, serta menjadi sarana untuk beramal, merenung, dan membangun kesadaran eskatologis. Studi ini menegaskan pentingnya pemahaman konseptual tentang waktu dalam perspektif Al-Qur’an guna membentuk kesadaran spiritual dan etika waktu dalam kehidupan Muslim.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis relevansi ayat huzn (depresi) perspektive Abu Zayd al-Balkhi (w. 943 M) dengan teori psikologi modern yaitu Cognitive Behavioral Therapy (CBT) yang dikembangkan oleh Aaron T. Beck. Penelitian ini memakai pendekatan kualitatif melalui studi pustaka dan tafsir tematik. Data diambil dari tafsir klasik dan modern, seperti Tafsir at-Thabari, al-Munir, dan al-Azhar, serta ayat-ayat Al-Qur’an, khususnya Surah Yusuf (ayat 13, 84, 86) dan Surah Maryam (ayat 24), untuk mendalami tema yang dibahas. Sumber data sekunder diperoleh dari kamus bahasa Arab, kitab azbabun nuzul, literatur sejarah, jurnal ilmiah dan karya ilmiah lainnya. Data dikumpulkan melalui teknik observasi dan pencatatan, lalu dianalisis dengan metode tafsir tematik menurut Al-Farmawi. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah 1) bagaimana penafsiran ayat-ayat huzn (depresi) perspektif psikologi Abu Zayd al-Balkhi (w. 934 M)? 2) Bagaimana relevansi penafsiran ayat huzn (depresi) dengan psikologi modern?, Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemikiran Abu Zayd al-Balkhi (w. 943 M) mengenai kesedihan sebagai respon alami yang dapat dikelola secara kognitif dan spiritual, sejalan dengan prinsip-prinsip CBT yang menekankan kesadaran diri (awareness), penataan ulang pola pikir (cognitive reframing), dan respon perilaku adaptif (behavioral response). Kisah Nabi Ya‘qub dan Maryam menjadi gambaran Qur’ani tentang self healing yang mencerminkan keseimbangan antara ekspresi emosional, keimanan dan tindakan solutif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi antara tafsir Al-Qur’an dan teori psikologi klasik Islam serta pendekatan psikologi modern mampu memberikan kontribusi terhadap pemahaman kejiwaan yang lebih holistik dan kontekstual di era kontemporer.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
This study explores the concept of aflaha in the Qur'an through the perspective of Syekh Nawawi Al-Bantani's Tafsir Marãh Labîd. The research addresses the lack of comprehensive studies on the concept of fortune in Islamic thought, particularly from the viewpoint of Nusantara scholars. The study aims to answer two main questions: (1) What is the meaning of aflaha according to Tafsir Marãh Labîd? and (2) How relevant is this concept to modern times? Using a qualitative approach and thematic interpretation method (tafsir maudhu'i), the research analyzes four key verses containing the term aflaha. The findings reveal that Syekh Nawawi's interpretation of aflaha encompasses both worldly and spiritual dimensions, emphasizing the purification of the soul and obedience to Allah as essential components of fortune. The study also demonstrates the relevance of this concept in addressing contemporary challenges such as materialism and mental health issues. The research concludes that the multidimensional understanding of aflaha in Tafsir Marãh Labîd offers a holistic approach to happiness that is highly pertinent to modern society.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
This study examines the concept of magic in the story of Prophet Musa as interpreted by Al-Baidawi in his tafsir Anwār al-Tanzīl wa Asrār al-Ta’wīl, focusing on verses related to magic in Surah Ṭāhā. The objective is to explore Al-Baidawi’s understanding of the nature of magic, its distinction from miracles, and its theological and moral implications within the narrative of Prophet Musa. Employing a descriptive-analytical method with a qualitative approach, this research analyzes verses 65–70 of Surah Ṭāhā, which depict the confrontation between the magicians of Pharaoh and the miracle of Musa. The findings reveal that, according to Al-Baidawi, magic constitutes a perceptual manipulation that deceives the human eye, whereas a miracle is a direct manifestation of divine power. Magic is classified as a major sin and an act of disbelief (kufr) due to its association with shirk (polytheism), and it has both physical and psychological effects, as illustrated by Musa’s fear upon witnessing the magicians’ illusions. These insights remain relevant in modern contexts, particularly in addressing manipulative mystical practices and psychological phenomena linked to contemporary forms of magic. The practical implications of this study include strengthening Islamic education, legal regulation of occult practices, and the application of Islamic psychology to address disturbances caused by negative suggestion. Moreover, it highlights the importance of cultivating critical awareness of modern mysticism while reinforcing belief in Allah as the sole source of true power.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kesalahan memahami konsep tawasul sebagai upaya agar dekat dengan pengabulan doa menjadikannya sebagai sesuatu yang kontroversial. Dalam hal ini, para mufasir berupaya mengungkap makna tawasul melalui penafsiran ayat-ayat yang menjadi landasan amaliah tawasul. Namun, perbedaan madzhab penafsiran seringkali memunculkan perspektif yang berbeda. Mufasir cenderung akan menafsirkan ayat sesuai pemikiran madzhabnya. Penelitian ini, akan membahas ayat-ayat tawasul dengan metode komparasi antara mufasir Suni melalui tafsir al-Iklil karya Misbah Musthafa dengan mufasir Muktazilah melalui Tafsir al-Kasysyaf karya Zamakhsyari. Penelitian ini bertujuan untuk melihat sejauh mana perbedaan penafsiran pada ayat-ayat tawasul oleh kedua mufasir ini serta mengetahui lebih jauh tentang makna dan konsep tawasul yang sesungguhnya. Hasil analisis penulis bahwa tafsir al-Iklil cenderung lebih menerima penggunaan tawasul dalam konteks intermediasi dalam berdoa, sedangkan al-Kasysyaf lebih mengutamakan pemahaman rasional dan kritik terhadap praktik tersebut. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan mendalam dalam memahami ayat tawasul, yang mencerminkan perbedaan teologis dan metodologis antara mazhab Suni dan Muktazilah.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pembahasan tentang Keimanan masih menjadi topik utama yang tidak pernah terlewatkan dalam kitab-kitab tafsir klasik seperti Tafsir al-Ibris karya Mustafa Bisri maupun kitab-kitab tafsir kontemporer seperti Tafsir al-Munir karya Wahbah al-Zuhayli. Dalam hal ini, penulis menemukan titik temu dari kedua tafsir tersebut. Pertama, tafsir Al-Ibriz cenderung bercorak fiqhi, sosial kemasyarakatan, dan shufi. Kedua, Tafsir al-Munir mencoba memegang konsep bahasa kontemporer yang dapat diintegrasikan ke dalam wacana tafsir klasik dengan corak tafsir fiqh. Penulis mengambil QS al-Kahfi [18] 9-26 sebagai objek tafsir dalam kajian perbandingan antara tafsir al-Ibriz dengan tafsir al-Munir berkenaan dengan berbagai nilai keimanan. Ayat ini dinilai memiliki nilai keimanan dari kisah Ashabul Kahfi yang tetap mempertahankan keimanannya meskipun dalam keadaan terancam. Melalui metode penelitian komparatif, ditemukan beberapa nilai keimanan dalam kajian QS al-Kahfi ayat 9-26, yaitu kedua tafsir ini sama-sama menganut konsep keimanan Ahlussunah Waljamaah sehingga nilai-nilai keimanan tersebut adalah: Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah dan Asma'wasifat. Perbedaan nilai keimanan dalam Tafsir al-Ibriz dan al-Munir dikarenakan adanya pola tafsir dan karakteristik kedua Tafsir tersebut yang berbeda.
ArticleOpen AccessMetadata saja
2020•Artikel Penelitian dan Pengabdian
ABSTRAK
IMPLIKASI QIRÂ’ÂT DALAM PENAFSIRAN SURAT AR-RAHMAN (Studi Tafsir Rûh al-Ma’âni)
Al-Qur’an al-Karim merupakan salah satu dasar hukum yang dimiliki oleh umat islam dalam menjawab semua persoalan, serta keorisinalitasnya dapat diuji dan tidak ada keraguan di dalam isi kandungannya. Kajian dan bahasan yang menitik beratkan terhadap al-Qur’an tidak akan pernah habis, diantara kajian tersebut seperti bahasan tentang implikasi qirâ’ât dalam penafsiran surat ar-Rahman dan diskursus ini sudah ada sejak turunnya al-Qur’an kepada Rasulullah secara tawâtur. Sedangkan qirâ’ât di indonesia masih terbilang baru bagi masyarakat umum, walaupun hal ini sudah lama dikenal oleh para kyai dan santri. Jika muncul sesuatu yang baru di tengah-tengah masyarakat, maka dapat dipastikan akan ada pro dan kontra. Penelitian yang berjudul Implikasi Qirâ’ât dalam Penafsiran surat ar-Rahman (Studi Tafsir Rûh al-Ma’âni) ini akan fokus pada masalah Implikasi Qirâ’ât dalam Penafsiran surat ar-Rahman menurut imam al-Alûsi dalam Tafsir Rûh al-Ma’âni. Sehingga muncul rumusan masalah, yaitu: Bagaimana pandangan imam al-Alûsi tentang qirâ’ât? Bagaimana implikasi qirâ’ât terhadap penafsiran imam al-Alûsi pada surat ar-Rahman?. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kepustakaan (library research) yang bersifat deskriptif analisis. Literatur merupakan sumber data dalam penelitian ini yang meliputi data primer dan data sekunder. Adapun kesimpulannya diambil menggunakan metode induktif, yakni sebuah metode yang digunakan untuk menarik kesimpulan dari uraian-uraian yang bersifat khusus ke dalam uraian yang bersifat umum, dan Analisa Komparatif sebagai sebuah teknik analisis yang hanya dapat dilaksanakan dengan cara membuat perbandingan antar elemen. Pada penelitian ini dapat ditemukan bahwa qirâ’ât merupakan salah satu media untuk membuka makna dibalik setiap lafadz.