ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) merupakan salah satu dampak psikologis dari tingginya intensitas penggunaan media sosial yang memicu kecemasan, perasaan tertinggal, serta kecenderungan individu untuk membandingkan diri dengan orang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an dalam Tafsīr Marāḥ Labīd karya Nawawi al-Bantani yang berkaitan dengan konsep ketenangan batin, sekaligus merumuskan pendekatan Living Qur’an sebagai respons Qur’ani terhadap fenomena FOMO. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research). Data utama bersumber dari Tafsīr Marāḥ Labīd, sementara data pendukung diperoleh dari berbagai literatur ilmiah yang relevan dengan konsep Living Qur’an dan FOMO. Proses analisis dilakukan melalui metode content analysis terhadap penafsiran ayat-ayat yang memuat nilai-nilai dzikir, tawakal, dan qana’ah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penafsiran dalam Tafsīr Marāḥ Labīd menegaskan tiga nilai utama, yakni dzikir sebagai dasar kesadaran spiritual, tawakkal sebagai mekanisme pengelolaan diri, serta qana’ah sebagai bentuk penerimaan diri yang proporsional, yang secara terpadu berkontribusi dalam membentuk ketenangan batin. Dalam perspektif Living Qur’an, nilai-nilai tersebut dapat diinternalisasikan dalam kehidupan sehari-hari sehingga mampu mereduksi kecemasan dan tekanan sosial yang muncul akibat budaya digital. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa ajaran Al-Qur’an tetap memiliki relevansi sebagai sumber solusi spiritual dalam menjaga keseimbangan psikologis masyarakat di era digital.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Praktik ruqyah sebagai salah satu bentuk terapi spiritual digunakan oleh masyarakat Muslim untuk mengatasi gangguan fisik dan psikologis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efek pelafalan ayat-ayat ruqyah terhadap kesembuhan pasien serta faktor-faktor yang memengaruhi efektivitas ruqyah dalam konteks fisik, psikologis, dan sosial. Penelitian ini menggunakan teori living Qur’an dengan Pendekatan etnografi. Untuk memahami praktik ruqyah dalam konteks kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Penelitian ini dilakukan di Masjid At-Taqwa, Labuhan Ratu, yang menjadi pusat kegiatan JRA Lampung Timur, pada periode Februari hingga April 2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi ruqyah memiliki efek signifikan terhadap kesembuhan pasien, yang tercermin dalam peningkatan fokus, berkurangnya stres, reduksi gejala depresi, serta perbaikan kualitas tidur. Faktor yang mempengaruhi keberhasilan terapi termasuk keyakinan pasien, dukungan keluarga. Praktik ruqyah tidak hanya menyembuhkan secara fisik dan psikologis, tetapi juga memulihkan aspek sosial dan spiritual pasien.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Istighāṡah triwulanan yang dilakukan oleh jamaah di Desa Cahayamas bukan hanya sebagai ibadah bersama, tetapi juga sebagai bagian dari tradisi budaya yang membentuk cara mereka memahami ajaran agama dan kehidupan sosial. Meski demikian, belum banyak penelitian yang menyoroti bagaimana praktik ini dipahami oleh jamaah dalam hubungannya dengan ayat-ayat al-Qur’an, serta bagaimana nilai-nilai dari praktik tersebut membentuk identitas religius dan kultural mereka. Kajian ini menjadi penting untuk mengetahui lebih dalam makna yang hidup dalam praktik keagamaan mereka.Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji resepsi eksegesis dan aspek kultural dalam praktik istighāṡah triwulanan oleh jamaah di Desa Cahayamas, Mesuji Makmur,Sumatra Selatan. Praktik istighāṡah tidak hanya sebagai ritual keagamaan, namun juga sebagai bentuk interaksi sosial dan budaya yang memperlihatkan bagaimana nilai-nilai Qur’ani dihayati dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pendekatan Living Qur’an kualitatif dan metode deskriptif, penelitian ini mengandalkan wawancara, observasi, dan dokumentasi sebagai teknik pengumpulan data. Analisis dilakukan dengan pendekatan teori resepsi dari Ahmad Rafiq, yang mencakup resepsi eksegesis, dan fungsional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jamaah memahami ayat-ayat yang dibaca dalam istighāṡah sebagai penguat spiritual dan penyambung harapan kepada Allah. Praktik ini juga memperkuat solidaritas sosial, identitas religius, serta merefleksikan dinamika interaksi antara teks suci dan budaya lokal. Penelitian ini memiliki implikasi penting dalam pengembangan studi Al-Qur’an berbasis kontekstual dan memberikan kontribusi terhadap pemahaman living Qur’an dalam masyarakat muslim Indonesia.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini membahas konsep living qur’an dalam tradisi ruwatan pernikahan bagi anak sendhang kapit pancuran di Desa Sidang Bandar Anom, Kecamatan Rawajitu Utara, Kabupaten Maesuji, Provinsi Lampung dengan pendekatan Fenomenologi Edmund Husserl. Living qur’an merupakan bentuk pengamalan al-qur’an dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam ritual budaya dan keagamaan. Tradisi ruwatan digunakan sebagai salah satu bentuk harapan akan ridho Allah, serta permohonan untuk keselamatan, Kesehatan, keharmonisan dan kelancaran rizki. Melalui pendekatan fenomenologi Husserl, peneliti akan menggali pengalaman subjektif masyarakat dalam memahami dan memaknai tradisi ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian masyarakat Desa Sidang Bandar Anom menginternalisasikan nilai-nilai al-qur’an melalui ritual ini, yang dianggap sebagai bentuk doa dan perlindungan spiritual. Penelitian ini mengungkapkan bahwa living quran tidak hanya hadir dalam aspek normatif, tetapi juga dalam dimensi budaya yang melekat pada tradisi masyarakat. Dengan demikian, ruwatan pernikahan bagi anak sendhang kapit pancuran menjadi contoh konkret bagaimana ajaran al-qur’an diadaptasi dan dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari.