Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

2 hasil
Penulis: MUHAMMAD KHOIRUN NIZAR
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

Interperasi Ayat-ayat Sains dalam Al-Qur'an (Studi Tematik Tafsir Klasik dan Tafsir Kontemporer mengenai bentuk Bumi)

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian berjudul “Interpretasi Ayat-Ayat Sains dalam Al-Qur’an (Studi Tematik Tafsir Klasik dan Tafsir Kontemporer Mengenai Bentuk Bumi)” ini dilatarbelakangi oleh pentingnya dialog antara wahyu dan ilmu pengetahuan modern, khususnya dalam memahami ayat-ayat kauniyyah yang menggambarkan fenomena alam semesta. Isyarat ilmiah tentang bentuk bumi dalam Al-Qur’an menjadi kajian menarik karena mencerminkan keterpaduan antara teks suci dan pengetahuan empiris manusia. Penelitian ini bertujuan menganalisis ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan bentuk bumi dalam perspektif tafsir klasik dan kontemporer, dengan fokus pada pemikiran Imam Fakhruddin ar-Razi dalam Mafātīḥ al-Ghayb dan Tantawi Jauhari dalam Al-Jawāhir fī Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm. Metode yang digunakan ialah tafsir tematik (maudhu‘i) melalui pengumpulan ayat-ayat relevan seperti Q.S. An-Nāzi‘āt [79]: 30, Al-Ghāshiyah [88]: 20, An-Naba’ [78]: 6, dan Adz-Dzāriyāt [51]: 48; analisis linguistik terhadap kata kunci seperti dahāhā, mihād, dan farashnāhā; serta kajian makna kontekstual berdasarkan penafsiran kedua mufasir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Imam ar-Razi menafsirkan ayat-ayat tersebut melalui pendekatan filosofis-kosmologis yang dipengaruhi paradigma geosentris abad pertengahan, namun tetap membuka kemungkinan bentuk bumi yang bulat. Sementara itu, Tantawi Jauhari, sebagai mufasir kontemporer, menggunakan pendekatan ilmiah-empiris yang selaras dengan temuan sains modern, menegaskan bumi sebagai bulat dan berotasi, serta menjadikannya bukti i‘jāz ‘ilmī Al-Qur’an. Perbedaan keduanya tidak menunjukkan kontradiksi, melainkan menggambarkan dinamika epistemologi tafsir yang terus berkembang sesuai kemajuan ilmu pengetahuan dan konteks zaman. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa Al-Qur’an bersifat transhistoris, terbuka terhadap perkembangan sains, dan mendorong integrasi antara wahyu dan akal dalam memahami fenomena alam ciptaan Allah.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Interperasi Ayat-ayat Sains dalam Al-Qur'an (Studi Tematik Tafsir Klasik dan Tafsir Kontemporer mengenai bentuk Bumi)

2026•Koleksi Perpustakaan

Abstrak Penelitian berjudul “Interpretasi Ayat-Ayat Sains dalam Al-Qur’an (Studi Tematik Tafsir Klasik dan Tafsir Kontemporer Mengenai Bentuk Bumi)” ini dilatarbelakangi oleh pentingnya dialog antara wahyu dan ilmu pengetahuan modern, khususnya dalam memahami ayat-ayat kauniyyah yang menggambarkan fenomena alam semesta. Isyarat ilmiah tentang bentuk bumi dalam Al-Qur’an menjadi kajian menarik karena mencerminkan keterpaduan antara teks suci dan pengetahuan empiris manusia. Penelitian ini bertujuan menganalisis ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan bentuk bumi dalam perspektif tafsir klasik dan kontemporer, dengan fokus pada pemikiran Imam Fakhruddin ar-Razi dalam Mafātīḥ al-Ghayb dan Tantawi Jauhari dalam Al-Jawāhir fī Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm. Metode yang digunakan ialah tafsir tematik (maudhu‘i) melalui pengumpulan ayat-ayat relevan seperti Q.S. An-Nāzi‘āt [79]: 30, Al-Ghāshiyah [88]: 20, An-Naba’ [78]: 6, dan Adz-Dzāriyāt [51]: 48; analisis linguistik terhadap kata kunci seperti dahāhā, mihād, dan farashnāhā; serta kajian makna kontekstual berdasarkan penafsiran kedua mufasir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Imam ar-Razi menafsirkan ayat-ayat tersebut melalui pendekatan filosofis-kosmologis yang dipengaruhi paradigma geosentris abad pertengahan, namun tetap membuka kemungkinan bentuk bumi yang bulat. Sementara itu, Tantawi Jauhari, sebagai mufasir kontemporer, menggunakan pendekatan ilmiah-empiris yang selaras dengan temuan sains modern, menegaskan bumi sebagai bulat dan berotasi, serta menjadikannya bukti i‘jāz ‘ilmī Al-Qur’an. Perbedaan keduanya tidak menunjukkan kontradiksi, melainkan menggambarkan dinamika epistemologi tafsir yang terus berkembang sesuai kemajuan ilmu pengetahuan dan konteks zaman. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa Al-Qur’an bersifat transhistoris, terbuka terhadap perkembangan sains, dan mendorong integrasi antara wahyu dan akal dalam memahami fenomena alam ciptaan Allah.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail