ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Perkembangan pesat teknologi digital telah mengubah pola komunikasi dan interaksi sosial siswa, khususnya melalui media sosial. Namun, belum optimalnya penguatan etika digital dalam pendidikan menyebabkan munculnya reasoning gap, yakni kesenjangan antara kebebasan berekspresi dan kesadaran moral siswa, yang tercermin dalam perilaku anonim tanpa pertimbangan etika. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam mengatasi perilaku anonim pada siswa sekolah menengah pertama. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus di SMP Ma’arif 1 Kota Metro. Subjek penelitian meliputi guru PAI, kepala sekolah, dan siswa pengguna aktif media sosial. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang mencakup reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun siswa aktif menggunakan berbagai platform media sosial, masih ditemukan interaksi negatif seperti ejekan, hinaan verbal, dan komentar tidak pantas yang mengarah pada perundungan siber ringan. Untuk mengatasinya, guru PAI menerapkan strategi berupa pembinaan moral, keteladanan, integrasi nilai-nilai Islam seperti konsep tabayyun dalam pembelajaran, konseling personal, serta kerja sama dengan orang tua. Penelitian ini menyimpulkan bahwa guru PAI berperan penting dalam membentuk etika digital dan menanamkan akhlakul karimah melalui kolaborasi berkelanjutan antara sekolah dan keluarga.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
: Penelitian ini menyelidiki korelasi antara empati dan perilaku perundungan di kalangan siswa di Sekolah Menengah Pertama Ma'arif 1 Metro. Menggunakan pendekatan kuantitatif, penelitian ini melibatkan populasi 321 siswa dengan ukuran sampel 178 siswa. Data dikumpulkan melalui instrumen yang telah divalidasi yang terdiri dari skala empati 10 item dan skala perilaku perundungan 15 item. Uji asumsi awal menunjukkan bahwa data tidak terdistribusi secara normal (p = 0,019) dan menunjukkan heteroskedastisitas (p = 0,000). Oleh karena itu, analisis non-parametrik melalui korelasi peringkat Spearman digunakan. Temuan deskriptif mengkategorikan empati (M = 22,69) dan perilaku perundungan (M = 23,93) dalam kategori sedang. Analisis inferensial mengungkapkan adanya korelasi positif yang signifikan, meskipun lemah (rₛ = 0,268, p 0,05) antara kedua variabel. Hasil ini menunjukkan bahwa dalam konteks penelitian ini, peningkatan empati berkaitan dengan peningkatan perilaku perundungan, yang mengindikasikan adanya kompleksitas hubungan antar variabel serta kemungkinan pengaruh faktor lain di luar penelitian.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana perilaku sosial remaja berkaitan dengan status fatherless. Tidak adanya figur ayah dalam kehidupan seorang anak, baik secara fisik maupun emosional, disebut sebagai status fatherless. Perilaku sosial adalah cara seseorang berinteraksi secara baik dengan orang lain seperti bekerja sama, berempati, dan berkomunikasi. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional dengan responden sebanyak 118 siswa SMP Ibs Nur Shofin. Penelitian ini menggunakan instrumen Father-Love Absence Scale (FLAS) digunakan untuk mengukur status fatherless dan Social Skills Improvement System-Rating Scale (SSIS-RS) digunakan untuk mengukur perilaku sosial remaja. Uji asumsi yang mencakup normalitas dan linearitas telah dilakukan, dan hasilnya menunjukkan bahwa asumsi tersebut memenuhi syarat untuk digunakan uji korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukkan hubungan negatif sedang yang signifikan antara perilaku sosial dan status fatherless (r = -0.416, p 0.01). Artinya, semakin tinggi tingkat ketiadaan peran ayah, maka semakin rendah perilaku sosial yang ditunjukkan oleh remaja. Penelitian ini menegaskan peran penting yang dimainkan oleh ayah dalam mendukung perkembangan sosial remaja dan dapat berfungsi sebagai dasar untuk intervensi sosial dan pendidikan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Peran guru PAI menjadi faktor penting dalam mencegah perilaku bullying di sekolah, khususnya dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman. Penelitian ini dibuat bertujuan untuk mengetahui peran guru pendidikan agama Islam dalam mencegah perilaku bullying khususnya di SMK Ma’arif 1 Metro. Hal ini disebabkan karena adanya perilaku bullying di Sekolah. Oleh sebab itu peran guru Pendidikan Agama Islam ini sangat penting untuk mencegah terjadinya perilaku tersebut. Adapun metode yang digunakan yaitu metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data diperoleh dari hasil Observasi, wawancara, dan dokumentasi. Subjek penelitian kali ini yaitu guru pendidikan agama Islam di kelas XI TKJ SMK Ma’arif 1 Metro. Teknik analisis data yang digunakan yaitu dengan (reduksi data), display data (penyajian data). Hasil dari penelitian ini adalah, peran guru pendidikan agama Islam dalam mencegah perilaku bullying di kelas XI TKJ SMK Ma’arif 1 Metro
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Bullying di sekolah merupakan masalah serius yang dapat mempengaruhi perkembangan fisik, emosional, dan sosial siswa. Salah satu upaya untuk mencegah terjadinya bullying adalah melalui pendidikan akidah akhlak. Guru akidah akhlak memiliki peran penting dalam membentuk karakter siswa agar memiliki perilaku yang baik dan saling menghormati. Artikel ini bertujuan untuk membahas peran guru akidah akhlak dalam mencegah bullying di MTs Ma'arif 3 Taman Cari.Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus, yang memungkinkan analisis mendalam terhadap situasi dan fenomena yang terjadi di sekolah tersebut. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan kepala sekolah, guru Akidah Akhlak, siswa, serta observasi langsung di lingkungan sekolah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru Akidah Akhlak memegang peranan penting dalam membentuk karakter siswa dan mengembangkan sikap saling menghargai, yang pada akhirnya dapat mengurangi kasus bullying. Melalui pendekatan pembelajaran yang menekankan pada nilai-nilai agama dan etika, guru berperan aktif dalam menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif bagi seluruh siswa.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pendidikan merupakan kunci penting dalam mengembangkan potensi manusia, membentuk karakter, serta mempersiapkan individu untuk menghadapi kehidupan. Salah satu tantangan dalam dunia pendidikan adalah fenomena bullying yang dapat mengganggu kesehatan psikologis siswa dan menghambat proses belajar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Guru Aqidah Akhlak dalam mengatasi perilaku bullying di MTs Darul Ulum Panaragan Jaya. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan observasi. Peneliti secara purposive memilih partisipan yang relevan, termasuk guru dan siswa, untuk menggali wawasan mendalam mengenai pendekatan yang diambil dalam menghadapi perilaku bullying. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru akidah akhlak berperan sebagai penggerak perubahan dan fasilitator yang aktif. Dengan pendekatan inovatif, seperti penggunaan media edukatif yang menarik dan diskusi interaktif, guru berhasil meningkatkan kesadaran siswa tentang dampak negatif bullying. Temuan ini mencerminkan transformasi positif dalam sikap siswa di MTs Darul Ulum Panaragan Jaya, yang kini lebih saling menghargai dan berkomitmen untuk menciptakan lingkungan yang bebas dari bullying. Penelitian ini menegaskan bahwa pendidikan akhlak yang terintegrasi tidak hanya menciptakan suasana belajar yang aman, tetapi juga mendukung pengembangan karakter siswa secara menyeluruh, menjadikan mereka generasi yang lebih baik di masa depan.