ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Adolescence is a crucial phase in identity formation that requires optimal psychological well-being. Career decision-making is one of the key factors influencing this condition. This study aims to examine the effect of career decision-making on adolescents' psychological well-being, and to investigate the role of parental involvement as a moderating variable. A quantitative approach with correlational design and Moderated Regression Analysis (MRA) was employed. Participants were 118 twelfth-grade students at MA Darul A'mal, Metro City, selected through purposive sampling. Instruments included career decision scale, parental involvement scale, and psychological well-being scale. Results showed that: (1) career decision-making had a significant positive effect on psychological well-being (B = 0.524; sig. = 0.000); (2) parental involvement significantly moderated the relationship between career decision-making and psychological well-being (B interaction = 1.822; sig. = 0.009); (3) simultaneously, the variables explained 53.7% of the variance in psychological well-being. These findings imply the importance of career guidance programs that integrate parental involvement to enhance adolescent psychological well-being.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
This study aims to analyze the implementation of religious moderation values in Aqidah Akhlak learning at MTs Terpadu Nurul Qodiri, focusing on the aspects of planning, implementation, and evaluation. This research employed a descriptive qualitative approach with data collection techniques including observation, interviews, and documentation. The research subjects consisted of Aqidah Akhlak teachers, students, and school stakeholders as supporting informants. The findings reveal that in the planning stage, religious moderation values such as tolerance, justice, and balance have been included in learning instruments such as lesson plans and syllabi; however, they remain general and have not been operationally defined in detailed learning activities. In the implementation stage, various teaching methods such as lectures, discussions, question and answer, role modeling, and habituation have been applied. Nevertheless, lectures still dominate, resulting in limited student participation, while discussion and role-modeling methods are proven to be more effective in internalizing moderation values. In the evaluation stage, assessment is still focused on cognitive aspects and lacks specific instruments to measure students’ attitudes toward religious moderation systematically. Overall, the implementation has been carried out but is not yet optimal. Therefore, improvements are needed in systematic planning, participatory implementation, and comprehensive evaluation to ensure that religious moderation values are effectively internalized in students’ character.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini mengkaji internalisasi nilai-nilai moderasi beragama melalui dakwah kultural Gus Dur di Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Desa Toto Katon, Kecamatan Punggur, Lampung Tengah. Fenomena radikalisme dan intoleransi menjadi ancaman serius bagi bangsa yang majemuk, sehingga moderasi beragama menjadi suatu keharusan yang harus dijunjung tinggi. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Penelitian ini membahas tiga rumusan masalah utama, yaitu: (1) bagaimana dakwah kultural Gus Dur dipahami dan dipraktikkan oleh anggota GP Ansor; (2) bagaimana proses internalisasi nilai- nilai moderasi beragama berlangsung dalam komunitas; dan (3) faktor-faktor apa saja yang mendukung atau menghambat proses tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa GP Ansor telah berhasil menginternalisasikan nilai-nilai moderasi beragama melalui pendidikan kader yang terstruktur, partisipasi dalam tradisi budaya lokal, serta keteladanan dalam perilaku sehari-hari. Implementasi dakwah kultural Gus Dur melalui tradisi lokal, keteladanan personal, dan pendekatan humor yang komunikatif terbukti efektif serta selaras dengan praktik budaya masyarakat setempat. Proses internalisasi berlangsung melalui tiga tahapan, yaitu pengetahuan moral (moral knowing), perasaan moral (moral feeling), dan tindakan moral (moral action). Faktor pendukung meliputi dukungan tokoh Nahdlatul Ulama, program kaderisasi yang terstruktur, kuatnya tradisi keagamaan lokal, serta koordinasi dengan GP Ansor tingkat yang lebih tinggi. Adapun faktor penghambat meliputi pengaruh radikalisme di media sosial, keterbatasan pemahaman sebagian anggota, serta keterbatasan sumber daya. Penelitian ini menegaskan bahwa pendekatan dakwah Gus Dur tetap relevan dan efektif dalam membentuk karakter moderat di kalangan pemuda akar rumput.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Abstract This study examines the process of internalizing the Islamic values of Ahl al-Sunnah wa al-Jamā‘ah (Aswaja) Al-Nahḍiyyah through quarterly religious activities in Sungai Sibur Village, South Sumatra, Indonesia. Sungai Sibur represents a rural community that continues to preserve locally embedded Islamic traditions rooted in Aswaja principles. A descriptive qualitative approach was employed, involving religious leaders and representatives of the Muslimat NU congregation as research participants. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation, and were analyzed thematically. The findings reveal that the quarterly activities engage diverse segments of the community, including Muslimat NU members and local religious figures. These activities serve as an effective mechanism for internalizing Aswaja values particularly moderation (tawassuṭ), balance (tawāzun), and tolerance (tasāmuḥ). The internalization process occurs through habituation, exemplary practices, social interaction, and contextually relevant religious understanding. Moreover, the activities contribute to strengthening Nahdlatul Ulama identity, fostering Islamic social cohesion (ukhuwah Islamiyah), and shaping the communitys religious character. Nevertheless, challenges remain, notably limited religious literacy among certain community members and geographical constraints. This study underscores the significant role of local religious traditions in promoting moderate and religious character formation within rural Muslim communities. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses internalisasi nilai-nilai Islam Ahl al-Sunnah wa al-Jamā‘ah (Aswaja) Al-Nahḍiyyah melalui kegiatan rutin triwulan di Desa Sungai Sibur Sumatera Selatan, Indonesia. Hal ini dikarenakan Desa Sungai Sibur merupakan salah satu desa yang masih menjaga tradisi keislaman dalam konteks lokal yang berlandaskan Ahlusunnah wal Jama’ah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Analisis dalam penelitian ini menggunakan teori internalisasi nilai yang menekankan proses transformasi, transaksi, dan transinternalisasi. Informan penelitian terdiri atas tokoh agama, perwakilan dari salah satu jamaah Muslimat dan Fatayat. Teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan triwulan diikuti dari berbagai lapisan masyarakat mulai dari Muslimat NU fatayat NU dan tokoh agama. Kegiatan ini berfungsi sebagai media internalisasi nilai-nilai Aswaja, khususnya nilai moderasi (tawassuṭ), keseimbangan (tawāzun), dan toleransi (tasāmuḥ) ditanamkan melalui proses pembiasaan, keteladanan, interaksi sosial, serta pemahaman keagamaan yang relevan dengan konteks masyarakat setempat. Selain itu, kegiatan ini memperkuat identitas ke-NU-an, meningkatkan ukhuwah Islamiyah, serta membentuk karakter religius masyarakat. Adapun kendala yang muncul meliputi keterbatasan pemahaman sebagian warga dan kondisi geografis yang kurang mendukung. Penelitian ini menegaskan bahwa tradisi keagamaan lokal memiliki peran penting dalam membangun karakter moderat dan religius pada masyarakat pedesaan.