ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Permasalahan dalam penelitian ini terletak pada belum optimalnya internalisasi nilai Ahlussunnah Wal Jamaah (ASWAJA) dalam strategi pemasaran oleh Marketing Funding Officer (MFO), sehingga nilai keagamaan belum terintegrasi secara sistematis dan belum mampu secara maksimal meningkatkan kepercayaan serta daya saing produk pembiayaan haji dan umroh.Penelitian ini bertujuan menganalisis internalisasi nilai ASWAJA dalam strategi pemasaran serta implikasinya terhadap daya saing produk pembiayaan haji dan umroh di BMT Artha Buana Kota Metro. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis field research melalui observasi, wawancara semi terstruktur, dan dokumentasi terhadap MFO, manajemen, dan nasabah yang dipilih secara purposive. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pemasaran berbasis kebutuhan, peran MFO sebagai agen kepercayaan melalui pendekatan relasi sosial, serta keunggulan produk berupa kebijakan diskon menjadi faktor utama daya saing. Namun, internalisasi nilai ASWAJA masih bersifat implisit dan belum terstandarisasi dalam strategi pemasaran maupun evaluasi kinerja. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa penguatan daya saing memerlukan integrasi nilai ASWAJA secara sistematis serta optimalisasi peran MFO sebagai pendamping spiritual guna meningkatkan kepercayaan dan loyalitas anggota
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Abstract This study examines the process of internalizing the Islamic values of Ahl al-Sunnah wa al-Jamā‘ah (Aswaja) Al-Nahḍiyyah through quarterly religious activities in Sungai Sibur Village, South Sumatra, Indonesia. Sungai Sibur represents a rural community that continues to preserve locally embedded Islamic traditions rooted in Aswaja principles. A descriptive qualitative approach was employed, involving religious leaders and representatives of the Muslimat NU congregation as research participants. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation, and were analyzed thematically. The findings reveal that the quarterly activities engage diverse segments of the community, including Muslimat NU members and local religious figures. These activities serve as an effective mechanism for internalizing Aswaja values particularly moderation (tawassuṭ), balance (tawāzun), and tolerance (tasāmuḥ). The internalization process occurs through habituation, exemplary practices, social interaction, and contextually relevant religious understanding. Moreover, the activities contribute to strengthening Nahdlatul Ulama identity, fostering Islamic social cohesion (ukhuwah Islamiyah), and shaping the communitys religious character. Nevertheless, challenges remain, notably limited religious literacy among certain community members and geographical constraints. This study underscores the significant role of local religious traditions in promoting moderate and religious character formation within rural Muslim communities. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses internalisasi nilai-nilai Islam Ahl al-Sunnah wa al-Jamā‘ah (Aswaja) Al-Nahḍiyyah melalui kegiatan rutin triwulan di Desa Sungai Sibur Sumatera Selatan, Indonesia. Hal ini dikarenakan Desa Sungai Sibur merupakan salah satu desa yang masih menjaga tradisi keislaman dalam konteks lokal yang berlandaskan Ahlusunnah wal Jama’ah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Analisis dalam penelitian ini menggunakan teori internalisasi nilai yang menekankan proses transformasi, transaksi, dan transinternalisasi. Informan penelitian terdiri atas tokoh agama, perwakilan dari salah satu jamaah Muslimat dan Fatayat. Teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan triwulan diikuti dari berbagai lapisan masyarakat mulai dari Muslimat NU fatayat NU dan tokoh agama. Kegiatan ini berfungsi sebagai media internalisasi nilai-nilai Aswaja, khususnya nilai moderasi (tawassuṭ), keseimbangan (tawāzun), dan toleransi (tasāmuḥ) ditanamkan melalui proses pembiasaan, keteladanan, interaksi sosial, serta pemahaman keagamaan yang relevan dengan konteks masyarakat setempat. Selain itu, kegiatan ini memperkuat identitas ke-NU-an, meningkatkan ukhuwah Islamiyah, serta membentuk karakter religius masyarakat. Adapun kendala yang muncul meliputi keterbatasan pemahaman sebagian warga dan kondisi geografis yang kurang mendukung. Penelitian ini menegaskan bahwa tradisi keagamaan lokal memiliki peran penting dalam membangun karakter moderat dan religius pada masyarakat pedesaan.