Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran konselor dalam meningkatkan kualitas hidup remaja yang mengalami hambatan pengembangan diri di Karang Rejo, Metro Utara. Masa remaja merupakan fase rentan di mana kegagalan dalam adaptasi dan penyelesaian masalah dapat berdampak negatif pada kualitas hidup mereka. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan subjek lima orang remaja (R1-R5) yang menghadapi berbagai krisis psikososial, seperti inferiority complex, kesulitan regulasi emosi, adiksi digital, overthinking, dan konflik keluarga. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran konselor diwujudkan secara terintegrasi melalui tiga fungsi utama: (1) sebagai konselor untuk pemulihan kondisi intrapersonal; (2) sebagai agen pencegahan dan perubahan dalam memfasilitasi adaptasi lingkungan; serta (3) sebagai konsultan untuk membangun kolaborasi strategis dengan keluarga melalui psikoedukasi. Implementasi peran ini didukung oleh strategi konseling yang spesifik, meliputi pendekatan Client-Centered untuk membangun aliansi terapeutik, restrukturisasi kognitif untuk mengatasi distorsi pikiran, dan modifikasi perilaku melalui latihan asertivitas serta regulasi emosi. Kesimpulannya, sinergi antara peran konselor yang adaptif dan penerapan teknik konseling yang tepat sasaran terbukti efektif dalam meningkatkan resiliensi psikologis, kontrol diri, dan kemandirian remaja, sehingga mereka mampu mengatasi hambatan pengembangan dirinya dan mencapai kualitas hidup yang lebih konstruktif. Kata Kunci: Peran Konselor, Pengembangan Diri Remaja, Kualitas Hidup.