Konstruksi Makna Cinta Tanah Air Dalam Al-Qur'an: Analisis Semantik Toshihiko Izutsu
Nasionalisme Indonesia menghadapi tantangan serius di era modern akibat meningkatnya kemiskinan , korupsi , dan intoleransi yang menggerus rasa cinta tanah air . Fenomena ini memaksa penguatan kembali nilai-nilai nasionalisme yang melekat pada identitas dan moralitas bangsa. Nasionalisme Indonesia menghadapi tantangan serius di era modern akibat meningkatnya kemiskinan, korupsi, dan intoleransi yang menggerus rasa cinta tanah air. Fenomena ini memaksa penguatan kembali nilai-nilai nasionalisme yang dicabut pada identitas dan moralitas bangsa. Dalam konteks keislaman, ajaran Islam menawarkan landasan teologis yang mendalam terhadap konsep cinta tanah air, sebagaimana tercermin dalam perilaku Nabi Muhammad SAW dan termanifestasi dalam berbagai ayat Al-Qur'an. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep cinta tanah air dalam Al-Qur'an dengan menggunakan pendekatan semantik yang diperkenalkan oleh Toshihiko Izutsu, guna mengungkap dimensi makna lafadz-lafadz yang berkaitan dengan tanah air dalam konteks spiritual, sosial, dan politik. Hasil kajian terhadap ayat-ayat seperti QS. Al-Qashash : 85, QS. An-Nisa : 66, dan QS. Al-Baqarah: 126 menunjukkan bahwa perputaran manusia terhadap tanah kelahiran merupakan fitrah yang dijunjung tinggi dalam Islam. Cinta tanah air tidak hanya bermakna emosional, tetapi juga merupakan bentuk tanggung jawab kolektif dalam menjaga keutuhan, kesejahteraan, dan stabilitas bangsa. Konsep hijrah juga mempertegas pentingnya pengorbanan demi nilai-nilai kebenaran dan keadilan. Penelitian ini berkontribusi dalam memperkaya kajian semantik Al-Qur'an serta menawarkan perspektif integratif antara nasionalisme dan nilai-nilai keislaman sebagai landasan dalam membangun bangsa yang bermoral dan berkeadilan.