Abstrak
Penelitian ini berangkat dari identifikasi masalah berupa krisis makna akibat modernisasi, digitalisasi, dan kecenderungan hidup materialistik yang berdampak pada melemahnya dimensi spiritual serta meningkatnya gangguan kesehatan mental. Kondisi ini menunjukkan keterbatasan pemahaman umat Islam terhadap konsep Kecintaan Terhadap Allah serta minimnya kajian tafsir yang mengkaji cinta Ilahi secara komprehensif dalam perspektif mufasir klasik, sehingga kajian ini menjadi urgen untuk mengaitkan warisan tafsir klasik dengan problem spiritual masyarakat modern dan konteks kehidupan kontemporer. Penelitian ini menjawab pertanyaan mengenai konsep Kecintaan Terhadap Allah dalam tafsir Fakhruddin al-Razi, metodologi penafsirannya, dan relevansinya di era modern. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan pendekatan tematik, menggunakan Mafātīḥ al-Ghayb sebagai sumber utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kecintaan Terhadap Allah merupakan konstruksi integratif antara ma‘rifah, rasionalitas, dan spiritualitas yang bersifat teosentris serta berimplikasi etis-praktis. Lebih lanjut, kajian ini mengidentifikasi relevansi konsep tersebut di era modern: maḥabbah ilāllāh terbukti fungsional dalam mengatasi krisis makna, memperkuat kesehatan mental, membangun etika sosial, dan menjawab kekeringan spiritual yang ditimbulkan oleh dominasi materialisme dan rasionalisme, sehingga berkontribusi dalam memperkaya khazanah tafsir klasik sekaligus menawarkan solusi konseptual bagi kehidupan kontemporer.