ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Toxic relationship dapat menimbulkan dampak psikologis signifikan, terutama bagi perempuan dewasa yang mengalami kegagalan pertunangan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami dampak toxic relationship terhadap kepuasan hidup dan self-esteem perempuan dewasa yang mengalami kegagalan pertunangan. Pendekatan kualitatif digunakan dengan desain studi kasus dan metode fenomenologi. Tiga partisipan perempuan berusia 19-27 tahun diwawancarai secara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa toxic relationship memberikan pengaruh negatif terhadap kepuasan hidup dan self-esteem yang ditandai dengan perasaan tidak dihargai, kehilangan arah hidup, serta kontrol dan manipulasi dalam hubungan. Meskipun mengalami penurunan kondisi psikologis selama hubungan berlangsung, partisipan menunjukkan proses pemulihan melalui refleksi diri, peningkatan kesadaran diri, dan dukungan sosial setelah hubungan berakhir. Selain itu, ditemukan bahwa tekanan sosial dan ekspektasi budaya turut memperkuat keputusan partisipan untuk bertahan dalam relasi yang merugikan. Penelitian ini menekankan pentingnya pemahaman dampak emosional toxic relationship serta perlunya intervensi psikososial untuk mendukung proses pemulihan perempuan setelah mengalami toxic relationship.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kesejahteraan psikologis remaja rentan terganggu akibat toxic relationship yang dapat menyebabkan stres, kecemasan, dan isolasi sosial. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis remaja yang terjebak dalam toxic relationship dengan mengevaluasi pendekatan SFBC sebagai metodenya. Dengan desain kuasi-eksperimen, penelitian ini melibatkan 24 responden yang dipilih secara purposive sampling. Pengukuran dilakukan menggunakan skala Toxic Relationship yang valid dengan skor 0.40 hingga 0.79 dan reliabel dengan skor 0.934 sebagai alat pengumpulan sampel dan Psychological Well-Being yang valid dengan skor 0.6 hingga 0.95 dan reliabel dengan skor 0.543 dan 0.828 dengan menggunakan desain pretest-postest. Dalam uji asumsi dasar pada hasil pretest dan postest seluruh data berdistribusi normal dan homogen dengan signifikansi 0.05, sehingga uji T dapat digunakan untuk analisis perbedaan skor. Hasil uji T menunjukkan bahwa konseling SFBC secara signifikan meningkatkan kesejahteraan psikologis remaja dalam kelompok eksperimen, dengan skor meningkat dari 44,00 menjadi 100,67. Peningkatan ini lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol, yang hanya mengalami peningkatan dari 44,25 menjadi 59,25. Dengan demikian, konseling SFBC terbukti efektif dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis remaja yang terjebak dalam hubungan toxic. Kesimpulan pada penelitian ini menegaskan bahwa SFBC dapat menjadi pendekatan yang efisien dan praktis karna pendekatan ini berfokus pada solusi yang dapat diterapkan dengan cepat, yang sesuai dengan karakteristik remaja yang lebih menyukai metode konseling yang langsung memberikan hasil.