Lewati ke konten utama
Beranda / Koleksi

COLLECTION

Koleksi Perpustakaan

Koleksi otomatis dari Perpustakaan

2.019 item publik

Publikasi

Halaman 15 dari 101

"Perbedaan Tingkat Kepercayaan Diri Generasi Z Ditinjau dari Gaya Berpakaian Casual dan Modis".

DIAH LISTIAWATI
2026 · Book · Open Access

This study aims to examine the effect of fashion interest on self-confidence and to identify differences in self-confidence levels based on casual and modish dressing styles among Generation Z. This research employed a quantitative approach with a causal-comparative design. The sample consisted of 323 Generation Z students selected using purposive sampling. Data were collected using a self-confidence scale and a fashion interest scale, and analyzed using descriptive statistics, simple linear regression, and independent sample t-test. The results indicated that fashion interest has a significant negative effect on self-confidence. In addition, there is a significant difference in self-confidence between individuals with casual and modish dressing styles, where individuals with casual styles tend to have higher self-confidence. These findings suggest that excessive concern with fashion trends may negatively influence self-confidence, while a simpler and more comfortable dressing style supports higher self-confidence among Generation Z.

Akhlak Tabayyun dalam Al-Qur’an: Analisis Tafsir Maqashidi atas Ayat-Ayat Tabayyun

ISNA QUFFA AWAMIRA
2026 · Book · Open Access

Kemajuan teknologi informasi pada era digital telah memunculkan berbagai persoalan etika dalam komunikasi, seperti penyebaran hoaks, misinformasi, dan ujaran kebencian. Fenomena ini menegaskan pentingnya penerapan prinsip verifikasi informasi dalam kehidupan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep akhlak tabayyun dalam Al-Qur’an melalui pendekatan tafsir maqāṣidī, serta menjelaskan urgensinya dalam pembentukan etika komunikasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan, yang menjadikan Al-Qur’an dan kitab-kitab tafsir sebagai sumber utama, serta didukung oleh berbagai literatur ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tabayyun tidak hanya dipahami sebagai proses verifikasi secara teknis, tetapi juga sebagai prinsip akhlak yang berorientasi pada tujuan-tujuan syariat (maqāṣid al-syarī‘ah), seperti menjaga akal, kehormatan, dan stabilitas sosial. Oleh karena itu, internalisasi nilai-nilai tabayyun menjadi kebutuhan yang mendasar dalam menghadapi derasnya arus informasi di era digital.

Konsep Interaksi Sosial Asosiatif dalam Al-Qur’an (Studi Komparatif Tafsīr Al-Munīr Dan Tafsīr Al-Mīṣbaḥ)

TIWI ANDARI
2026 · Book · Open Access

Penelitian ini mengkaji konsep interaksi sosial asosiatif dalam Al-Qur’an melalui analisis komparatif terhadap penafsiran Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsīr al-Munīr dan M. Quraish Shihab dalam Tafsīr al-Miṣbāḥ, serta menelaah relevansinya dengan teori interaksi sosial menurut Ahmad Siddiq dan soerjono soekanto. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya memahami nilai-nilai sosial Qur’ani dalam membangun hubungan sosial yang harmonis di tengah masyarakat modern saat ini. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan tafsir komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep interaksi sosial asosiatif dalam Al-Qur’an tercermin dalam nilai ta‘āwun (kerja sama), ta‘āruf (saling mengenal), dan tanggung jawab sosial, sebagaimana termuat dalam ayat-ayat ijtimā‘iyyah. Kedua mufasir memiliki kesamaan bahwa interaksi sosial harus berlandaskan kebaikan dan ketakwaan. Perbedaannya, Wahbah Az-Zuhaili lebih menekankan aturan dan konsekuensi hukum, sedangkan M. Quraish Shihab lebih menekankan nilai kemanusiaan dan penerapannya dalam kehidupan sekarang. Lebih lanjut, konsep tersebut memiliki relevansi yang kuat dengan pemikiran Ahmad Siddiq melalui Trilogi Ukhuwwah serta teori interaksi sosial asosiatif Soerjono Soekanto. Dengan demikian, nilai sosial dalam Al-Qur’an dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk membangun masyarakat yang rukun, harmonis, dan saling menghargai.

KONSEP LIVING QUR’AN DALAM TAFSIR MARĀḤ LABĪD SEBAGAI SOLUSI QURANI TERHADAP FENOMENA FEAR OF MISSING OUT

PUJI SRI REJEKI
2026 · Book · Open Access

Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) merupakan salah satu dampak psikologis dari tingginya intensitas penggunaan media sosial yang memicu kecemasan, perasaan tertinggal, serta kecenderungan individu untuk membandingkan diri dengan orang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an dalam Tafsīr Marāḥ Labīd karya Nawawi al-Bantani yang berkaitan dengan konsep ketenangan batin, sekaligus merumuskan pendekatan Living Qur’an sebagai respons Qur’ani terhadap fenomena FOMO. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research). Data utama bersumber dari Tafsīr Marāḥ Labīd, sementara data pendukung diperoleh dari berbagai literatur ilmiah yang relevan dengan konsep Living Qur’an dan FOMO. Proses analisis dilakukan melalui metode content analysis terhadap penafsiran ayat-ayat yang memuat nilai-nilai dzikir, tawakal, dan qana’ah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penafsiran dalam Tafsīr Marāḥ Labīd menegaskan tiga nilai utama, yakni dzikir sebagai dasar kesadaran spiritual, tawakkal sebagai mekanisme pengelolaan diri, serta qana’ah sebagai bentuk penerimaan diri yang proporsional, yang secara terpadu berkontribusi dalam membentuk ketenangan batin. Dalam perspektif Living Qur’an, nilai-nilai tersebut dapat diinternalisasikan dalam kehidupan sehari-hari sehingga mampu mereduksi kecemasan dan tekanan sosial yang muncul akibat budaya digital. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa ajaran Al-Qur’an tetap memiliki relevansi sebagai sumber solusi spiritual dalam menjaga keseimbangan psikologis masyarakat di era digital.

Upaya Guru Dan Orang Tua Dalam Pengembangan Akhlak Anak Melalui Metode Komunikasi Terpadu Pada Anak Usia Dini Di RA Nurul Huda

NUR THILA SYAROFA
2026 · Book · Open Access

ABSTRAK UPAYA GURU DAN ORANG TUA DALAM PENGEMBANGAN AKHLAK ANAK MELALUI METODE KOMUNIKASI TERPADU PADA ANAK USIA DINI DI RA NURUL HUDA BANDAR MATARAM Oleh : Nur Thila Syarofa Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih ditemukannya perilaku anak usia dini yang belum sepenuhnya mencerminkan akhlak terpuji, seperti kebiasaan berbicara kasar dan mengumpat, yang sering kali dipengaruhi oleh lingkungan sekitar maupun paparan media digital tanpa pengawasan orang tua. Kondisi ini mengindikasikan adanya ketidaksinkronan (mismatch) antara pembiasaan nilai akhlak di sekolah dengan pola pengasuhan di rumah. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan upaya guru dan orang tua dalam mengembangkan akhlak anak melalui metode komunikasi terpadu pada Anak Usia Dini di RA Nurul Huda Bandar Mataram. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) yang menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Subjek dalam penelitian ini meliputi Kepala Sekolah, Guru Kelas, Orang Tua/Wali Murid, serta Peserta Didik di RA Nurul Huda Bandar Mataram. Pengumpulan data dilakukan menggunakan teknik observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan pendekatan induktif yang terdiri dari tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diuji melalui uji kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya pengembangan akhlak anak dilakukan secara efektif melalui metode komunikasi terpadu yang memiliki dimensi kolaboratif dan partisipatif. Guru dan orang tua menerapkan proses perancangan bersama (co-designing) untuk menyepakati target perilaku spesifik yang ingin dicapai, seperti adab berbicara. Upaya ini didukung oleh penggunaan berbagai media komunikasi secara optimal, mulai dari buku penghubung, pesan WhatsApp pribadi, hingga forum dialog langsung dan program parenting. Selain itu, pihak sekolah dan keluarga secara selaras menerapkan strategi keteladanan (modeling) dan pembiasaan (habituation) dalam keseharian anak. Kesimpulannya, kolaborasi dan komunikasi terpadu antara sekolah dan rumah terbukti mampu menekan kebiasaan anak mengucapkan kata-kata kasar serta mencegah anak mengalami kebingungan nilai, karena aturan sopan santun mendapatkan penguatan yang konsisten di kedua lingkungan tersebut.

Peran Guru Dalam Penanaman Akhlak Pada K-Pop Dalam pembelajaran PAI di SMP Islam Tri Bhakti Al Asna

YULIANA WIRANTI
2026 · Book · Open Access

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam menanamkan nilai-nilai akhlak kepada siswa kelas VII yang terpengaruh fenomena budaya K-Pop di SMP Islam Tri Bhakti Al-Asna Tulang Bawang Barat, Lampung. Fenomena K-Pop telah menjadi bagian dari kehidupan remaja dan tidak hanya mempengaruhi gaya hidup, tetapi juga pembentukan karakter dan akhlak siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam secara purposive, dan dokumentasi. Informan terdiri atas pengelola sekolah, guru PAI, dan peserta didik kelas VII. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) peran guru dalam membimbing siswa yang memiliki ketertarikan terhadap K-Pop cenderung tidak bersifat larangan, melainkan mengarahkan siswa agar tetap fokus belajar; (2) upaya guru dalam menanamkan nilai-nilai akhlak Islam sangat tinggi dengan tetap menegakkan keseimbangan antara ibadah dan kegiatan positif lainnya; (3) strategi guru yang digunakan adalah dengan cara beradaptasi, memberikan ruang ekspresi siswa di luar jam belajar, serta mengingatkan siswa tentang prioritas belajar. Temuan penelitian menunjukkan bahwa ketertarikan terhadap K-Pop tidak secara signifikan mengganggu proses pembelajaran, dan penanaman akhlak di sekolah ini cukup kuat untuk membentengi peserta didik dari pengaruh negatif budaya populer tersebut.

Peran Pendidikan Akidah Akhlak Berbasis Sosio-Kultural Dalam Mencegah Perilaku Hedonisme Dikalangan Siswa MA Ma'arif 02 Seputih Surabaya

ANIS FADILATAN NAFSI
2026 · Book · Open Access

The phenomenon of hedonistic lifestyles among adolescents is increasingly prevalent, including among students in the madrasah environment. This behavior is reflected in consumptive tendencies, wasteful use of pocket money, and following trends without considering needs and moral values. This condition poses a challenge for educational institutions in instilling moral and faith-based values that can shape students' character. The purpose of this study is to analyze the role of socio-culturally based moral and faith education in preventing hedonistic behavior among students at MA Ma'arif 02 Seputih Surabaya. This research is a field study employing data collection techniques through a combination of methods (observation, interviews, and documentation). For data analysis, the researcher used a qualitative approach. Based on the analysis of the data discussed, this study reveals that socio-culturally based moral and faith education plays a role in preventing hedonistic behavior through: (1) spiritual reinforcement through habitual worship practices, (2) internalization of zuhud (asceticism) and qana'ah (contentment) values through local wisdom, (3) strengthening self-control through teacher role modeling, and (4) developing social awareness through religious activities.This approach fosters simplicity, responsibility, and moral awareness in students, thereby minimizing consumptive behavior.

Analisis Faktor Penyebab Kurangnya Pembelajaran Fikih Terhadap Penggunaan Make-Up Waterproof Santri Pondok Pesantren Ma’arif 28 Purwosari Metro Utara Kota Metro

SILMA AHYA ULAIL
2026 · Book · Open Access

The use of waterproof make-up among female students (santri putri) in Islamic boarding schools has the potential to invalidate ablution (wudu) due to its function as a barrier (ha’il) that prevents water from reaching the skin. This phenomenon reflects a weak understanding of fiqh al-thaharah, which is closely related to the suboptimal implementation of fiqh instruction at Pondok Pesantren Ma’arif Metro 28 Purwosari. This study aims to analyze the factors contributing to inadequate fiqh learning, describe students’ behavior in using waterproof make-up, and explain its relationship with worship practices, particularly ablution. The research employed a qualitative approach using a descriptive-analytical case study design. The findings indicate that weak fiqh instruction is influenced by the lack of integration of contemporary fiqh issues, predominantly theoretical and textual teaching methods, minimal practical demonstrations related to man‘ al-wuṣūl, and low levels of religious awareness among students. These findings confirm that non-contextual fiqh learning leads to a low understanding of the legal requirements of valid ablution, thereby encouraging the use of waterproof make-up without consideration of worship validity. Therefore, strengthening contextual and case-based fiqh education is an urgent necessity in responding to the dynamics of modern lifestyles. Keywords: Islamic Boarding School, Waterproof Make-up, Fiqh, Thaharah, Ablution. Penggunaan make-up waterproof di kalangan santri putri di pondok pesantren berpotensi membatalkan wudu karena fungsinya sebagai penghalang (ḥā’il) yang mencegah air sampai ke kulit. Fenomena ini mencerminkan lemahnya pemahaman fikih al-thaharah yang berkaitan erat dengan belum optimalnya pelaksanaan pembelajaran fikih di Pondok Pesantren Ma’arif 28 Purwosari Metro. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor penyebab kurangnya pembelajaran fikih, mendeskripsikan perilaku santri dalam penggunaan make-up waterproof, serta menjelaskan kaitannya dengan praktik ibadah, khususnya wudu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus deskriptif-analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lemahnya pembelajaran fikih dipengaruhi oleh kurangnya integrasi isu-isu fikih kontemporer, metode pengajaran yang masih dominan bersifat teoritis dan tekstual, minimnya demonstrasi praktis terkait konsep man‘ al-wuṣūl, serta rendahnya tingkat kesadaran religius santri. Temuan ini menegaskan bahwa pembelajaran fikih yang tidak kontekstual menyebabkan rendahnya pemahaman terhadap syarat sah wudu, sehingga mendorong penggunaan make-up waterproof tanpa mempertimbangkan keabsahan ibadah. Oleh karena itu, penguatan pendidikan fikih yang kontekstual dan berbasis kasus menjadi kebutuhan mendesak dalam merespons dinamika gaya hidup modern.

Dinamika Sosial dan Kultural Dalam Interaksi Antar Santri di Lingkungan Pesantren Qur'anic Center Tulang Bawang Barat

RISA KHAFIFATUR ROHMAH
2026 · Book · Open Access

Perbedaan etnis, bahasa, agama, serta kondisi sosial ekonomi dalam masyarakat dapat menjadi sumber kekuatan, namun sekaligus menghadirkan tantangan dalam membangun kesatuan sosial. Dalam beberapa tahun terakhir, meningkatnya kecenderungan polarisasi, munculnya konflik identitas, serta berkurangnya nilai-nilai kebersamaan menjadi indikasi bahwa integrasi sosial tidak selalu tercipta secara harmonis. Dalam konteks ini, pesantren tidak semata-mata berperan sebagai lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga menjadi ruang sosial yang merefleksikan kehidupan masyarakat yang beragam, di mana para santri dari latar belakang berbeda hidup bersama dan menjalin interaksi yang intens dalam keseharian mereka. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, dengan penentuan informan menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan secara induktif melalui tahapan reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dinamika sosial dan kultural dalam interaksi antar santri, serta menganalisis keterkaitan fungsional antara keduanya dalam menciptakan interaksi yang harmonis di lingkungan pesantren. Ruang lingkup penelitian difokuskan pada pola interaksi sosial santri, proses adaptasi budaya, serta peran nilai-nilai pesantren dalam membentuk solidaritas dan penyelesaian konflik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dinamika sosial dan kultural santri berlangsung.

Tanggung Jawab Hukum Pegawai Deres Perkebunan Karet yang Melakukan Wanprestasi dalam Pelaksanaan Perjanjian Kerja dan Upaya Penyelesaiannya Menurut Hukum Perdata (Studi Kasus di Desa Kalipapan Kabupaten Way Kanan)

ANITA
2026 · Book · Open Access

Penelitian ini mengkaji tanggung jawab hukum pegawai perkebunan karet atas wanprestasi dalam perjanjian kerja menurut hukum perdata, dengan studi kasus di Desa Kalipapan, Kabupaten Way Kanan. Permasalahan utama adalah pelanggaran pembagian hasil karet yang tidak sesuai dengan kesepakatan, yang berpotensi menimbulkan sengketa dan ketidakadilan. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan yuridis normatif, serta pengumpulan data melalui observasi dan wawancara. Analisis berfokus pada bentuk wanprestasi, tanggung jawab hukum, dan mekanisme penyelesaian sengketa berdasarkan ketentuan hukum perdata. Temuan menunjukkan bahwa wanprestasi terjadi ketika pegawai melaksanakan kewajiban penyadapan tetapi tidak membagi hasil sesuai kesepakatan, sehingga menimbulkan tanggung jawab hukum secara pribadi. Penyelesaian sengketa dilakukan melalui mekanisme diluar pengadilan yaitu mediasi. Hasil penelitian memberikan kontribusi ilmiah dan praktis dalam memperkuat kepastian hukum dan perlindungan hak para pihak di sektor perkebunan.

EKSPLORASI TAFSIR AYAT-AYAT MERITOKRASI DALAM AL-QUR’AN: STUDI PENDEKATAN KONTEKSTUAL ABDULLAH SAEED

M. IRSYAD MUHYIDIN A. H
2026 · Book · Open Access

Meritokrasi merupakan sistem penempatan individu dalam jabatan atau peran berdasarkan kemampuan, prestasi, dan kelayakan, bukan karena hubungan kekerabatan, status sosial, atau kepentingan tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi tafsir ayat-ayat meritokrasi dalam Al-Qur’an melalui pendekatan tafsir kontekstual Abdullah Saeed serta menganalisis relevansinya terhadap sistem kepemimpinan meritokratis kontemporer. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Data primer berupa ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan meritokrasi, sedangkan data sekunder diperoleh dari karya-karya Abdullah Saeed, kitab tafsir, buku, jurnal, dan kajian akademik yang relevan. Analisis data dilakukan secara deskriptif-analitis melalui empat langkah tafsir kontekstual Abdullah Saeed. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meritokrasi dalam Al-Qur’an tidak hanya menekankan kemampuan dan prestasi, tetapi juga integritas, karakter, empati, dan tanggung jawab moral. QS. Al-Qaṣaṣ [28]:26 menekankan kompetensi dan amanah, QS. Al-Isrā’ [17]:84 menegaskan kesesuaian peran dengan karakter individu, dan QS. At-Taubah [9]:128 menghadirkan model kepemimpinan yang empatik dan penuh kasih sayang. Dengan demikian, meritokrasi dalam perspektif Al-Qur’an menawarkan paradigma kepemimpinan yang holistik, etis, dan relevan bagi tata kelola organisasi maupun pemerintahan kontemporer.

Penafsiran Ibnu Asyur Terhadap Ayat-Ayat Kesehatan Mental Dan Relevansinya Dengan Psikologi Carl Rogers

LAILATUL BADRIYAH
2026 · Book · Open Access

Kesehatan mental merupakan salah satu isu global yang semakin mendapat perhatian dalam berbagai disiplin ilmu. Organisasi Kesehatan Dunia melaporkan bahwa sekitar 970 juta orang di dunia mengalami gangguan mental seperti depresi dan kecemasan. Fenomena ini mendorong perlunya pendekatan multidisipliner dalam memahami kesehatan mental, termasuk melalui perspektif keagamaan. Penelitian ini bertujuan menganalisis penafsiran Ibnu Asyur terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan kesehatan mental dan mengkaji relevansinya dengan teori psikologi humanistik Carl Rogers. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan. Data primer diperoleh dari kitab Tafsīr al-Taḥrīr wa al-Tanwīr karya Muhammad al-Thahir Ibnu Asyur, sedangkan data sekunder berasal dari literatur psikologi, khususnya teori Carl Rogers. Teknik analisis data menggunakan analisis tematik dengan mengidentifikasi konsep kesehatan mental dalam ayat-ayat Al-Qur’an, kemudian mengkaji relevansinya dengan konsep self-actualization, unconditional positive regard, dan fully functioning person. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penafsiran Ibnu Asyur terhadap ayat-ayat seperti QS. Ar-Ra’d: 28, QS. Al-Fajr: 27–30, QS. Yunus: 57, dan QS. Al-Baqarah: 286 memuat konsep ketenangan jiwa, penyembuhan batin, dan ketahanan psikologis. Konsep tersebut memiliki relevansi dengan teori psikologi Carl Rogers dalam hal pencapaian kesejahteraan psikologis. Penelitian ini menunjukkan integrasi antara tafsir Al-Qur’an dan psikologi humanistik dapat memberikan perspektif yang lebih komprehensif dalam memahami kesehatan mental.

PEMBOROSAN DALAM ACARA MUKBANG PERSPEKTIF IBNU AJIBAH (STUDI KAJIAN TOKOH TERHADAP AYAT-AYAT "ISRAF)

UMI HANI KHOFIFAH
2026 · Book · Open Access

The Mukbang phenomenon—digital content featuring the act of eating large portions—has grown increasingly popular on social media and sparked a discourse on consumption ethics within digital culture. This study aims to analyze wasteful practices in Mukbang shows through the lens of Ibn Ajibah’s thought on the concept of “israf” (excess) in Islamic consumption ethics. This study employs a qualitative method using a literature review approach, analyzing the works of Ibn Ajibah, secondary sources on Mukbang, and several examples of Mukbang content analyzed descriptively. This study uses Quranic verses Al-A’raf 31, Al-An’am 141, and Surah Thaha 81 as objects of interpretation regarding the values of “israf”. The results indicate that, according to Ibn Ajibah’s perspective, excessive consumption not based on need or public welfare constitutes wastefulness and poses potential health risks. Furthermore, this study contributes to the development of Islamic consumption ethics in Qur’anic exegesis and emphasizes the importance of re-examining popular consumption practices to ensure they align with Qur’anic values and social responsibility in Islam

Upaya Guru Untuk Meningkatkan Rasa Cinta Tanah Air pada Anak Usia Dini Usia 5-6 Tahun Melalui Membatik di TK Kartini Biru Karang Anyar Kec. Jati Agung Kab. Lampung Selatan T.A 2024/2025

GHINA VALENIA NABILAH
2026 · Book · Open Access

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan upaya guru dalam meningkatkan rasa cinta tanah air pada anak usia dini melalui kegiatan membatik di TK Kartini Biru Karang Anyar Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan Tahun Ajaran 2024/2025. Latar belakang penelitian ini berangkat dari pentingnya penanaman nilai-nilai kebangsaan sejak usia dini, khususnya melalui pendekatan pembelajaran berbasis budaya lokal. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Subjek penelitian meliputi guru kelas dan peserta didik usia 5–6 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan membatik dimanfaatkan guru sebagai media internalisasi nilai cinta tanah air melalui pengenalan motif batik nusantara, pemahaman makna simbolik dalam batik, serta penjelasan mengenai warisan budaya Indonesia yang patut dijaga. Proses pembelajaran dirancang secara terstruktur melalui tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi dengan tetap mempertimbangkan karakteristik perkembangan anak. Anak-anak terlibat aktif dalam membuat pola sederhana, mewarnai motif, hingga memahami cerita di balik motif batik tertentu. Kegiatan ini tidak hanya meningkatkan keterampilan motorik halus, tetapi juga menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya bangsa. Evaluasi sebelum dan sesudah kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pada aspek pengetahuan budaya, sikap menghargai budaya nasional, serta minat anak terhadap kegiatan yang berkaitan dengan kebudayaan Indonesia. Dengan demikian, kegiatan membatik terbukti menjadi strategi efektif untuk menanamkan nilai cinta tanah air pada anak usia dini di lingkungan sekolah. Kata Kunci: Cinta Tanah Air, Anak Usia Dini, Membatik

تأثير نموذج التعلم التعاوني نوع رمى كرة الثلج على ترقية مهارة الكلام لدى طلاب

DIAH ANA NUR BAITI
2026 · Book · Open Access

This study was motivated by the low level of students’ Arabic speaking skills (maharah kalam), which is caused by the lack of opportunities for students to actively use the language during the learning process. Therefore, a learning model that can encourage students’ active participation is needed. This study aims to determine the effect of implementing the cooperative learning model of the Snowball Throwing type on improving the maharah kalam of tenth-grade students at Sunan Ampel Punggur Senior High School. This research employed a quantitative approach using an experimental method with a one-group pretest–posttest design. The sample consisted of 13 students selected through total sampling. Data were collected through oral tests, observation, and documentation. The data were analyzed using a normality test, a paired sample t-test, and N-Gain calculation. The results showed that the students’ average score increased from 16 in the pretest to 20 in the posttest. The paired sample t-test indicated a significance value of 0.000 (0.05), which means that there was a significant difference in students’ speaking ability before and after the treatment. In addition, the N-Gain score of 0.45 was categorized as moderate. These findings indicate that the implementation of the Snowball Throwing cooperative learning model is moderately effective in improving students’ Arabic speaking skills.

Analisis Karakteristik Buku Teks Bahasa Arab 2 Kelas II Madrasah Ibtidaiyah Kurikulum Merdeka Berdasarkan Kriteria Buku Ajar Yang Baik

TAZKA MARCHAELA AULIA
2026 · Book · Open Access

This study aims to analyze the feasibility of the Arabic language textbook for secondgrade students at an Islamic elementary school based on the Independent Curriculum, with reference to the standards set by the National Education Standards Agency. The research employs a qualitative approach in the form of library research and content analysis. The data consist of the textbook’s content, which includes aspects of content feasibility, presentation, language, and graphic design. The findings indicate that, in general, the Arabic language textbook for second-grade students at the Islamic elementary school meets the feasibility standards established by the National Education Standards Agency. In terms of content, the materials are appropriate to the learners’ characteristics and aligned with the learning outcomes of Phase A of the Independent Curriculum as well as the values of the Pancasila Student Profile. Regarding presentation, the book is organized systematically and sequentially, although the variety of learning activities remains limited. In terms of language, the use of vocabulary and structures is simple and appropriate to the students’ cognitive development; however, some inconsistencies remain in the writing of diacritical marks and transliteration. As for graphic design, the visual appearance is sufficiently attractive and contextual, though improvements in print quality are needed in certain sections. Therefore, the textbook is considered suitable for use as instructional material, although further improvements are still necessary to achieve a higher level of quality.

The Role Of Digital Literacy in Reducing Students English-Speaking Anxiety: A Systematic Literature Review

ERVIN OKTA VIANI
2026 · Book · Open Access

English speaking anxiety remains a major affective barrier among Indonesian EFL learners, compounded by sociocultural norms of face-saving and limited authentic speaking practice in traditional classroom settings. This study examined the role of digital literacy in reducing English speaking anxiety, identified the most effective digital literacy components, and synthesized key findings from prior research. A Systematic Literature Review (SLR) following the PRISMA 2020 protocol was conducted across Google Scholar and ERIC databases. From 1,490 initially retrieved records, 20 empirical articles published between 2020 and 2025 were systematically selected and analyzed. Data were analyzed qualitatively using Indonesia's National Digital Literacy Framework (Kominfo), which conceptualizes digital literacy through four pillars: Digital Skills, Digital Ethics, Digital Safety, and Digital Culture. Findings demonstrate that digital literacy reduces speaking anxiety through three interrelated mechanisms: alleviating performance pressure via asynchronous platforms; creating psychologically safe practice environments through AI-based tools; and fostering confidence through repetitive digital practice. Among the four pillars, Digital Safety emerged as most dominant (90% of studies), followed by Digital Skills as a universal prerequisite (100%), Digital Culture (35%), and Digital Ethics (20%). These findings confirm that digital literacy functions not merely as a technical competency but as a holistic affective support system for EFL learners. The study concludes that effective digital language instruction must be designed with learners' psychological needs at the forefront, integrating asynchronous formats, AI feedback, and structured pedagogical approaches within a culturally sensitive framework.