Lewati ke konten utama
Beranda / Koleksi

COLLECTION

Koleksi Perpustakaan

Koleksi otomatis dari Perpustakaan

2.019 item publik

Publikasi

Halaman 58 dari 101

Ilmu Akhlak

Drs. H. Samsul Munir Amin; M.A.
2022 · Book · Open Access

Mata kuliah Ilmu Akhlak merupakan mata kuliah yang sangat penting di perguruan tinggi Islam, mengingat akhlak merupakan benteng moralitas bagi para mahasiswa. Untuk itu, diperlukan referensi khusus yang mengkaji ilmu akhlak secara lengkap. Buku ini mengulas konsep ilmu akhlak secara menyeluruh, mulai dari pengertian ilmu akhlak, sejarah perkembangannya, kedudukan akhlak dalam Islam, hingga hubungan ilmu akhlak dengan berbagai disiplin ilmu lainnya. Selain itu, buku ini juga menyajikan kriteria baik dan buruk dalam Islam, serta contoh-contoh akhlak mahmudah dan akhlak madzumumah. Disusun berdasarkan kurikulum dan silabus terbaru Dirijen Pendidikan Tinggi Islam Kementerian Agama RI, membuat buku ini sangat tepat dijadikan referensi utama mata kuliah Ilmu Akhlak. Buku ini juga cocok dibaca oleh siapa saja yang ingin memahami akhlak secara mendalam dan menyeluruh.

Ilmu Perbandingan Agama

Muhamad Afif Bahaf
2022 · Book · Open Access

Ilmu Perbandingan Agama adalah suatu cabang ilmu pengetahuan yang berusaha untuk memahami gejala-gejala keagamaan dari suatu kepercayaan dalam hubungannya dengan agama lain. Pemahaman ini meliputi persamaan juga perbedaan.3 Definisi yang hampir serupa juga dikemukakan oleh K. Sukardji yang menjelaskan bahwa Ilmu Perbandingan Agama adalah Ilmu yang mengkaji sejumlah agama (beberapa agama) dengan berbagai aspkenya untuk mengetahui persamaan dan perbedaannya satu sama lain, secara keseluruhan atau pada masalah-masalah tertentu menurut azas, sistem dan metode tertentu yang dilakukan dengan teliti.4 Karena berimplikasi kepada komparasi inilah kemudian ada sarjana yang mendefinisikan Ilmu Perbandingan Agama sebagai ilmu yang membandingkan asal-usul, struktur dan ciri-ciri dari berbagai agama dunia, dengan maksud untuk menentukkan persamaanpersamaan dan perbedaan-perbedaannya yang sebenarnya, sejauh mana hubungan antar satu agama dengan agama-agama yang lain, dan superioritas dan inferioritas yang relatif apabila dianggap sebagai tipe-tipe. Sekalipun analisis komparatif tidak dapat terhindarkan dalam kajian Ilmu Perbandingan Agama, tetapi kajian komparatif bukanlah misi utama dari kajian ilmu ini karena misi utamanya tidak lain mengajarkan hal-ihwal yang berkaitan dengan agama. Tentang hal ini, Hasbullah Bakry menjelaskan bahwa Ilmu Perbandingan Agama mengajarkan tentang agama-agama, baik yang ada penganutnya di negeri kita ini atau tidak, baik yang disebut missionary religions (ajaran agama untuk disiarkan bagi semua orang), maupun non-missionary religions (ajaran agama yang tidak untuk disiarkan bagi semua orang). Jadi, sebenarnya kata “perbandingan” yang terdapat dalam nama Ilmu Perbandingan Agama tidaklah mewakili substansi dari ilmu ini, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa istilah ini dalam perkembangannya telah dibajak guna kepentingan dan tujuan normatif tertentu. Para pembanding agama memperbandingkan agama dengan tujuan menentukan nilai normatif agama-agama dan menunjukkan keunggulan agamanya sendiri. Houston Smith pernah menyebut “comparative” merosot menjadi “competitive”. Di sini perbandingan agama menjadi “apologetik”. Untuk menghindari kerancuan ini, maka ada yang memakai istilah “Sejarah Agama-agama” dalam arti yang sama dengan “Religionswissenschaft”. Istilah yang terakhir inilah yang pertama kali digunakan oleh Max Muller pada tahun 1857 dengan tujuan agar disiplin baru ini terbebas dari filsafat agama dan terutama dari teologi, sehingga menjadi ilmu yang deskriptif, ilmiah, objektif. Diusahakan agar terhindar dari penilaian normatif dan subjektif.

Pendidikan Akhlak dalam al-Qur’an: Studi Tarbawi Perspektif Syaikh Nawawi al-Bantani

Badrudin; Hikmatullah
2022 · Book · Open Access

Pendidikan akhlak merupakan soko guru kehidupan yang mempunyai peranan sangat penting dalam menciptakan kedamaian. Nilai-nilai akhlak Qur'ani dalam pemikiran-pemikiran Syaikh Nawawi, kaitannya mengenai pendidikan akhlak dalam Tafsir Munir / Marah Labid layak dibahas dan dipelajari. Dalam hubungan ini merupakan studi kajian Tarbawi Perspektif Syaikh Nawawi Al-Bantani. Di dalamnya dikupas kandungan kajian pendidikan akhlak karimah. Implementasi akhlak diperlukan adab dan tatakrama yang harus dipegang oleh umat manusia baik secara vertikal (antara diri manusia dengan Khaliq), maupun secara horizontal (antara dirinya sendiri dengan masyarakat, maupun dengan lingkungan dan sesama manusia). Urgensi mengkaji pendidikan akhlak Qur'ani berperan positif bagi perkembangan dan kemajuan budaya masyarakat. Pendidikan akhlak hadir memiliki banyak fungsi yang tidak hanya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa an sich, tetapi juga berfungsi sebagai pencerdasan diri, sosial, negara, bangsa, dan bahkan dunia. Pendidikan akhlak yang dijalankan Syaikh Nawawi al-Bantani diarahkan pada pendidikan intelektualitas dan spiritual secara terpadu. Pendidikan intelektualitas dibangunnya pada kajian-kajian keilmuan, sedangkan pendidikan ruhani dibangunnya pada bahasan akhlak-tasawuf. Implikasi pendidikan yang dicanangkan Syaikh 'Abd al-Qâdir al-Jîlâniy perlu diberdayakan pada masyarakat Indonesia dalam rangka upaya optimalisasi potensi dasar manusia secara terpadu dan terarah menuju kesuksesan hidup manusia di dunia dan akhirat. Di kalangan masyarakat dalam manifestasi cita-cita hidup mulia perlu ditransformasikan nilai-nilai budi luhurnya terhadap pribadi generasi penerusnya. Sehingga implikasi dari pemikiran pendidikan akhlak Syaikh Nawawi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dan memperkaya konsep-konsep pendidikan Islam di Indonesia.

Epistemologi dalam Filsafat

Daniel Rusyad
2022 · Book · Open Access

Epistemologi sebagai sebuah cabangkajian dalam filsafat, membahas tentang karakteristik, asal usul, dan batasan-batasan pengetahuan manusia (Martinich: 2019). Termin ‘epistemologi’ berasal dari bahasa Yunani, yaitu epistēmē atau "pengetahuan" dan logos yang berarti "nalar" atau “ide”, sehingga epistemologi secara konseptual dapat dipahami sebagai teori ilmu pengetahuan. Epistemologi memiliki sejarah panjang dalam filsafat Barat, berakar dari tradisi Yunani kuno dan berlanjut hingga saat ini. Bersama dengan metafisika, logika, dan etika, epistemologi adalah satu dari empat cabang utama filsafat, dan dikembangkan oleh hampir semua filsuf besar yang dikenal sepanjangsejarah. Epistemologi merupakan bidang kajian yang sangat sentral dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Karena tema pokok dan isu-isu terkait dengannya, sebagaimana diuraikan secara ringkas dalam makalah ini, pada intinya berupaya menjawab bagaimana manusia mengetahui sesuatu? Sebangun dengan pertanyaan itu, bagaimana manusia, melalui pemikirannya membangun ilmu pengetahuan? Isu-isu pokok sepertibatasan sensasi dan persepsi manusia, berbagai konsep ilmu pengetahuan (Mental vs Non-Mental, Occasional vs Dispositional, A Priori vs A Posteriori, Necessary vs Contingent, Tautologi vs Signifikan, Bawaan vs Latihan), perbedaan paradigmatik atas dunia luar dan alam pikiran lain, hingga tiga aliran pemikiranyang berkembang; Rasionalisme, Empirisme dan Skeptisisme, membantu mengkonstruksi gagasan bagaimana epistemologi sebagai sebuah cabang dari filsafat betkontribusi dalam pengembangan iu pengetahuan dalam kehidupan manusia.

Pengantar Filsafat Ilmu

Dr. I Nyoman Wijana; S.Sos.; M.Si.; M.Pd.; Dr. Ni Putu Listiawati; S.E.; Ak.; M.M.; Ni Luh Drajati Ekaningtyas; S.Psi.; M.Psi.
2022 · Book · Open Access

Pengantar Filsafat: Cara Cepat Berpikir Filosofis

Ahsanul Anam
2022 · Book · Open Access

Pengantar Filsafat adalah salah satu mata kuliah yang wajib diambil oleh seluruh mahasiswa, materi buku ini telah disesuaikan dengan silabi/RPS Kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Adapun tujuan mata kuliah ini adalah agar mahasiswa dapat mengenal dan memahami perkem-bangan filsafat secara umum mulai dari filsafat klasik hingga kini, termasuk filsafat Islam. Pendekatan yang kami gunakan dalam menyiapkan buku ini adalah pendekatan historis. Karena sejarah filsafat didominasi oleh sejarah pertarungan antara akal dan hati (filsafat dan iman). Inilah yang men-dorong penulis ketika menggagas tulisan ringan dan mudah dicerna bagi mahasiswa strata satu (S1) untuk mengenalkan pola berpikir filosofis. Salah satu jalan terbaik untuk itu adalah dengan mengulas khazanah pemikiran yang pernah dan terus berkembang dalam sejarah. Buku ini berisikan beberapa pembahasan yang disajakan dalam 9 bab, yaitu: Urgensi Belajar Filsafat; Pengertian, Problem, Objek dan Ciri Berfikir Filsafat; Kedudukan dan Cabang Filsafat; Filsafat Klasik; Filsafat Abad Pertengahan; FIlsafat Modern; Aliran Filsafat Modern; Filsafat Kontemporer; dan Filsafat Islam

Pengantar Filsafat Ilmu Pengetahuan

Donny Gahral Adian; Dr. Akhyar Yusuf Lubis
2022 · Book · Open Access

Buku ini memetakan persoalan-persoalan utama di seputar Filsafat Ilmu Pengetahuan. Hubungan antara filsafat dengan ilmu pengetahuan, akal dan pengalaman, pengetahuan dan kesahihan, metode ilmiah, masalah positivisme sains, perdebatan antara realisme dan anti realisme, pasca positivisme, teori kritis, dan konstruktivisme. Selain itu juga membincang perdebatan hebat berbagai aliran filsafat dalam rentang masa modern hingga posmodern, dari David Hume hingga Thomas Kuhn.

Filsafat Komunikasi

Mohammad Zamroni
2022 · Book · Open Access

“Tidak mudah menjelaskan secara detail dimensi ontologi, epistemologi dan aksiologi ilmu komunikasi. Nyatanya, itu tidak berlaku bagi penulis buku ini. Uraiannya jelas, bahasanya pun lugas. Di sini kepiawaian penulis teruji baik. Selamat membaca….” —Dr. Andy Dermawan, M.Ag., Dosen Filsafat Ilmu UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Ada sebuah “kegamangan” yang terus menghinggapi benak kita, ketika mempersoalkan kebenaran Ilmu Komunikasi sebagai suatu realitas pengetahuan yang selalu bergerak dan mengalir secara dinamis. Bahkan, keragu-raguan pun mengarah pada pertanyaan-pertanyaan mengenai ontologi, epistemologi dan aksiologi Ilmu Komunikasi itu sendiri. Pertanyaannya, mengapa masyarakat tertutup, total, serta irasional seperti sekarang ini dapat terjadi? Apa relasinya dengan filsafat ilmu dan apa guna filsafat ilmu untuk menguraikan hal ini? Lalu, apa yang sebenarnya terjadi dalam ilmu-ilmu sosial, termasuk ilmu komunikasi? Benarkah terjadi krisis dalam ilmu komunikasi? Berbagai implikasi dalam mempersoalkan ilmu sebagai satu realitas baik secara ontologi, epistemologi, dan aksiologi menjadi bagian yang signifikan untuk menjawab beragam pertanyaan di atas hal ini.

Pengantar Filsafat Hukum

Abd. Shomad; Prawitra Thalib
2022 · Book · Open Access

Filsafat hukum bertumpu pada renungan dan hasrat manusia cerdas sebagai subjek hukum yang hidup di dalam dinamika hukum. Oleh sebab itu, filsafat hukum tidaklah dapat dilepaskan dari manusia yang berperan sebagai subjek hukum maupun subjek filsafat, karena manusia membutuhkan hukum dan hanya manusia yang sesungguhnya lah yang mampu berfilsafat, ini merupakan capaian tertinggi manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang membedakan manusia dengan makhluk ciptaan Tuhan lainnya. Filsafat hukum relevan dalam upaya pembangunan hukum yang seutuhnya. Hal ini disebabkan tugas filsafat hukum adalah untuk menjelaskan sejelas-jelasnya fondasi nilai hukum tersebut secara filosofis, yang mampu memformulasikan cita-cita kemaslahatan dalam wujud damai dan sejahtera di dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya itu melalui filsafat hukum pula secara radikal akan mengubah hasrat manusia melalui paradigma hukum guna memenuhi tuntutan perkembangan hukum pada suatu masa dan tempat tertentu. Penegakan hukum dan kemaslahatan harus menggunakan jalur pemikiran yang tepat dan koheren dengan cita-cita hukum tersebut. Oleh karenanya, untuk merealisasikan pernormaan maupun konten dari norma tersebut harus ditentukan oleh keyakinan etis, keadilan, dan kemaslahatan, supaya norma yang telah dibakukan tersebut tidak menimbulkan suatu kondisi penyelewengan sistematis yang dilakukan oleh oknum-oknum tertentu. Hukum merupakan sumber kekuasaan berupa kekuatan dan kewibawaan dalam praktik kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Hukum tanpa kekuasaan adalah imajinasi, sedangkan kekuasaan tanpa hukum adalah zalim. Sekalipun zaman berubah, masyarakat berubah hingga mengarah pada perubahan dan perkembangan hukum. Namun, idealnya cita-cita hukum tidak boleh berubah, untuk memastikan konsistensi terhadap pemenuhan dari cita-cita hukum inilah dibutuhkan adanya filsafat hukum.