Lewati ke konten utama
Beranda / Koleksi

COLLECTION

Koleksi Perpustakaan

Koleksi otomatis dari Perpustakaan

2.019 item publik

Publikasi

Halaman 56 dari 101

Teori Naskh Al-Qur’an Kontemporer: Studi Pemikiran Mahmud Muhammad Taha dan Jasser Auda

Rijalul Fikri
2022 · Book · Open Access

Diskursus studi al-Qur’an kontemporer pasca Muhammad Abduh mengalami pergeseran paradigma, dari teks ke konteks. Konteks dalam proses penafsiran mendapatkan porsi pertimbangan yang lebih dibanding era sebelumnya. Hal ini berimplikasi terhadap munculnya beragam rekonstruksi dalam melihat teori-teori klasik, salah satu diantaranya adalah teori naskh al-Qur’an. Dua dari sekian tokoh yang menawarkan pembacaan modern adalah Mahmud Muhammad Taha dan Jasser Auda. Taha membangun konstruksi teori naskh-nya di atas basis pemikirannya, yaitu evolusi syariah. Sedangkan Jasser menggugat penggunaan teori naskh berlandaskan perspektif maqashid syariatnya, yaitu teori sistem. Karena itu, buku ini berupaya menghadirkan kerangka argumen dan metodologis penafsirannya, berikut paradigma yang mendasarinya, serta relevansi pemikiran keduanya di dalam peta wacana naskh al-Qur’an kontemporer. Buku ini menyimpulkan bahwa teori naskh evolutif-progresif Taha bertumpu pada konteks dan dialektikanya terhadap realitas. Peristiwa naskh di periode Madinah dipahami tidak dalam kerangka penghapusan ayat, melainkan sebagai penggantian penerapan yang bersifat temporal. Pada saat yang sama, agar ajaran esensial yang terkandung di dalam ayat Makkiyah dapat terbuka kembali, ia membalik teori naskh konvensial, sehingga hukum mengalami gerak evolutif di sepanjang zaman. Di sisi yang lain, dalam kerangka teknis, Jasser Auda tak beranjak dari pengertian teori konvensional, namun perspektif maqashidi yang ia tawarkan menutup aplikasi yang memungkinkan terjadinya naskh. Hal itu dilakukan bertujuan untuk menunjukkan kelemahan argumen epistemologis teori naskh konvensional yang cenderung oposisi binner, menggantikannya dengan pembacaan komprehensif-multidimensional. Buku ini tidak sependapat dengan mayoritas ulama tradisional, baik tradisional secara zaman ataupun tradisional secara metodologi pembacaan.

Studi Hadis Teori dan Aplikasi

Arbain Nurdin; M.Pd.I; Ahmad Fajar Shodik; M.Th.I
2022 · Book · Open Access

Buku Studi Hadis : Teori dan Aplikasi ini disusun dengan tujuan menyediakan serta memperkaya referensi materi mata kuliah Studi Hadis/Ilmu Hadis/Ulumul Hadits untuk mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI), maupun Perguruan Tinggi Umum (PTU), buku ini pula memberikan keunikan tersendiri, karena disusun secara sistematis dan seimbang antara kajian teoritis tentang ilmu-ilmu hadis dengan kajian aplikatif khususnya yang berkenaan dengan metodologi penelitian hadis.

Studi Pemikiran Hadis Abu Rayyah dalam Kitab Adwa ‘ala al-Sunnah al-Muhammadiyyah

Ade Pahrudin
2022 · Book · Open Access

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap dan menganalisis pemikiran Mahmud Abu Rayyah (w. 1971 M) terhadap hadis dalam kitabnya Adwa ‘Ala al-Sunnah al-Muhammadiyyah. Inti penelitian ini menyimpulkan bahwa pemikiran Abu Rayyah terhadap penolakan otoritas dan autentisitas hadis dalam kitabnya pada dasarnya bisa dikategorikan ke dalam dua hal; pertama, kritik terhadap otoritas hadis dan proses periwayatannya yang mencakup reduksi terhadap definisi sunnah, proses periwayatan dengan makna dan pelarangan penulisan hadis. Kedua, tidak percaya terhadap kredibilitas para rawi hadis terutama kredibilitas Abu Hurayrah (w. 57 H) sebagai sahabat dengan kuantitas periwayatan terbanyak dan kredibilitas al-Bukhari (w. 256 H) sebagai penyusun kitab yang dianggap paling sahih. Namun setelah dianalisis, argumentasi yang disampaikan Abu Rayyah tidak kokoh dan rancu disebabkan karena kurang teliti, penukilan yang keluar dari konteks dan asumsi yang terlalu dini. Hasil penelitian ini membantah pendapat Juynboll (w. 2010 M) (The Authenticity of the Tradition Literature; Discussions in Modern Egypt) dan al-Sayyid Murtada al-Ridawi (Ma’a Rijal al-Fikr Fi al-Qahirah) yang menyatakan bahwa argumentasi kritik Hadis Abu Rayyah merupakan pemikiran original sebagai seorang muslim kritis, tidak dipengaruhi pemikiran orientalis skeptis sedikitpun. Sebaliknya, sebaliknya temuan penelitian ini memperkuat pendapat Mustafa Siba‘i (w. 1986 M) (al-Sunnah wa Makanatuha fi al-Tashri'), Abu Shahbah (w. 1986 M), (Difa ’An al-Sunnah Wa Radd Shubah al-Mustashriqin Wa al-Kuttab al-Mu’asirin) dan ‘Ali Mustafa Yaqub (w. 2016 M) (Kritik Hadis) yang menegaskan bahwa Abu Rayyah mengambil teori-teori yang dikembangkan oleh orientalis dan sengaja melakukan kecurangan akademik dalam penukilan sumber rujukannya. Mayoritas pemikiran hadis Abu Rayyah bersumber dari pemikiran Ignaz Goldziher (w. 1921 M), Ahmad Amin (w. 1954 M), Tawfiq Sidqi (w. 1920 M) dan Rasid Rida (w. 1935 M). Bentuk Penelitian ini adalah deskriptif-analitik. Penelitian kepustakaan (library research) ini sumber primernya adalah kitab Adwa ‘Ala al-Sunnah al-Muhammadiyyah karya Mahmud Abu Rayyah dengan menggunakan metode Content Analysis (analisis isi) untuk kategorisasi pemikiran Abu Rayyah dalam kitab Adwa dan Cross Reference/al-Muqaranah (perbandingan) dalam menganalisis argumentasi yang ia sampaikan.

Metode Penelitian Kualitatif Rekontruksi Pemikiran Dasar serta Contoh Penerapan Pada Ilmu Pendidikan, Sosial & Humaniora

DR. AMIR HAMZAH; MA
2022 · Book · Open Access

Pangkal tolak dari kesalahan umum desain penelitian kualitatif berawal dari kesalahan dalam menetapkan tujuan penelitian. Para peneliti pemula sering terjebak pada pemahaman bahwa jenis penelitian kualitiatif hanya ‚Penelitian Deskriptif” dan tujuan penelitiannya untuk “mendeskripsikan”. Padahal, penelitian deskriptif hanya salah satu jenis dalam penelitian kualitatif, di antara jenis-jenis lainnya, misalnya: Penelitian Dasar, Penelitian Terapan, Penelitian Evaluasi, Penelitian Tindakan, Penelitian Partisipatif, Penelitian Dampak Sosial, Penelitian Eksplanatori, Studi Kasus, Penelitian Cross-sectional, Penelitian Longitudinal, Penelitian Deret Waktu (time series), Studi Panel, Studi Kohort, Penelitian Survey, Penelitian Nonrekatif, Penelitian Historis Komparatif, Studi Kepustakaan, dll.

FILSAFAT PENDIDIKAN

M. Fairuzabady Al Baha'i
2022 · Book · Open Access

Dari hari ke hari problem pendidikan semakin komplek mengikuti arah perkembangan zaman. Berbagai pemikiran manusia dicurahkan untuk menjawab problematika pendidikan. Tetapi apa yang dibutuhkan oleh manusia sesungguhnya berawal dari pertanyaan-pertanyaan mendasar yang diajukan oleh filsafat agar ia bisa semakin mendekati kepada realitas yang diharapkan. Tidak hanya itu, manusia berupaya mengembangkan pengetahuannya dan mengajarkannya kepada orang lain agar hasil-hasil pemikiran dan tradisi budayanya itu dapat diteruskan oleh generasi-generasi setelahnya. Ada yang bertahan, tetapi ada pula yang tergusur oleh hasil pemikiran baru. Itulah pendidikan. Jika makhluk lain bertahan dan berkembang mengikuti selera alam, tidak halnya dengan manusia, ia bertahan dan berkembang melalui proses pendidikan. Peranan filsafat yang mendasari berbagai aspek pendidikan sudah tentu merupakan sumbangan utama bagi pembinaan pendidikan. Teori-teori yang tersusun karenanya dapat disebut sebagai ilmu kependidikan yang landasannya adalah filsafat pendidikan. Dalam pandangan Islam, filsafat pendidikan dapat diartikan sebagai studi tentang pandangan filosofis dari sistem dan aliran filsafat terhadap masalah-masalah pendidikan sehingga dapat memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap pertumbuhan dan perkembangan individu dan umat Islam secara luas. (HM. Arifin dalam buku Ilmu Pendidikan Islam) Pendidikan seharusnya ditujukan untuk memelihara dan meningkatkan intelektualitas manusia. Pendidikan tinggi harus bersendikan filsafat metafisika. Filsafat pada dasarnya adalah cinta intelektual yang datangnya dari Tuhan. (Robert M. Hutchkins, seorang penganut Perenialisme)

Dhikir Dalam Dunia Tarekat

Muhamad Basyrul Muvid; M.Pd
2022 · Book · Open Access

Zikir merupakan sebuah rangkaian amaliah yang tidak mensyaratkan suatu rukun dan syarat tertentu dalam pelaksanannya. Ia bentuk ibadah yang paling fleksibel yang bisa dilaksanakan kapan saja, di mana saja dan dalam setiap keadaan. Zikir tidak hanya dimaknai sebagai pelafalan kalimah-kalimah thayyibah seperti tasbih, tahmid, tahlil, takbir, hauqalah, isighfar, asma’ul husna dan lain sebagainya, namun lebih kepada perasaan ingat, sadar akan adanya (hadir)nya Allah di setiap langkah kehidupan kita. Sehingga, menjadikan kita sebagai pribadi yang yang selalu merasa bersama Allah yang berdampak pada hubungan dekat antara seorang hamba dengan Tuhannya. Relasi yang kontinu inilah yang akan mengantarkan seseorang pada suasana damai, tenang, dan bahagia meskipun secara fisik ia sedang dilanda derita.

Akhlak

Damanhuri Basyir
2022 · Book · Open Access

Thoughts of Syeikh Abdurrauf As-Singkili, an Indonesian ulama, on Islamic ethics from sufism perspectives.

Ilmu perbandingan agama

Muhammad Adib Fuadi Nuriz; Spirit for Education and Development (Yogyakarta)
2022 · Book · Open Access

Zikir Penyejuk Jiwa: Panduan untuk Membersihkan Hati dan Membangun Akhlak Mulia

Muhamad Basyrul Muvid; M.Pd.
2022 · Book · Open Access

Zikir adalah elemen penting, bahkan menjadi ruh dalam ajaran dan praktik tasawuf (tarekat). Al-Quran dan hadis sendiri banyak menyebut zikir, dorongan untuk melakukannya, dan keutamaan serta manfaat yang terkandung di dalamnya. Tak ayal tokoh-tokoh sufi dan tarekat memiliki zikir-zikir tertentu yang di-dawam-kan dan menjadi pedoman para murid dan salik sekaligus menjadi ciri khasnya. Buku ini secara lugas memaparkan zikir menurut tasawuf merujuk pada para tokoh besar sufi, seperti al-Muhasibi, Hakim at-Tirmidzi, ath-Thusi, al-Kalabadzi, al-Makki, al-Qusyairi, al-Jilani, as-Suhrawardi, Ibnu ‘Athaillah, al-Ghazali, Syaikh ‘Ajibah, Ibnu Qayyim, Ibnu Rajab, hingga Abu al-A’la. Selain mengungkap rahasia dan hakikat zikir dalam pandangan mereka, buku ini juga mengungkap tingkatan dan fungsi zikir sebagai pembentuk akhlak mulia. Dilengkapi dengan doa-doa khusus sejumlah tokoh besar sufi, buku ini menegaskan bahwa zikir tak semata-mata aktivitas mengingat Allah yang menenteramkan hati, tetapi juga sarana untuk mengubah perilaku kita menjadi pribadi yang berakhlak mulia, berkualitas secara spiritual dan sosial.