Lewati ke konten utama
Beranda / Koleksi

COLLECTION

Koleksi Perpustakaan

Koleksi otomatis dari Perpustakaan

2.019 item publik

Publikasi

Halaman 51 dari 101

Iman dan ilmu

Franz Magnis-Suseno
2022 · Book · Open Access

Religious reflections on evolution, secularism, bioethics, ecology, and social justice.

Ilmu seni-raras

Machjar Koesoemadinata (Raden)
2022 · Book · Open Access

Sundanese gamelan music with text and notations.

Faham ilmu

Mohd. Idris Jauzi
2022 · Book · Open Access

Concept of knowledge with reference to its development and impact to education in Malaysia; collection of articles.

PENGANTAR ILMU KALAM

Casrameko
2022 · Book · Open Access

Sebab utama dari perpecahan adalah karena Hawa nafsu dan kejahilan (kebodohan). Firqoh Dollah berarti golongan-golongan yang sesat, dalam arti salah memilih jalan dalam menempuh Islam. Kesesatan bisa berarti Bid'ah dan juga berarti kekafiran. Tetapi dalam konteks ini, yang dimaksud dengan kesesatan adalah Bid'ah, yaitu salah memilih jalan dalam meniti Islam, yang seharusnya meniti jalan yang telah ditempuh Rasullullah dan para sahabatnya, yaitu jalan sunah. Begitulah yang mulai terjadi pada masa-masa terakhir khulafa'urrosyidin (empat kholifah yang mendapatkan petunjuk). Walaupun bibit-bibit Furqoh (perpecahan) dan Firoq (kelompok-kelompok) sudah mulai bersemi sebelum kekhalifahan Ali bin Abi Tolib, akan tetapi munculnya golongan sesat pertama yang mengkristalkan sebagai sebuah kelompok, baru terjadi pada zaman kekhilafahan beliau. Ilmu Kalam merupakan ilmu yang mempelajari tentang aliran-aliran dalam Islam baik dari segi awal kemunculannya hingga sampai perkembangan di masa sekarang. Sebagai muslim yang ingin “ber-Islam” sebagaimana Islamnya Nabi Agung Muhammad saw, wajib mempelajari Ilmu Kalam agar kita bisa beragama dengan penuh keyakinan dan terhindar dari taqlid buta.

Akidah Salaf Vs Ilmu Kalam Jilid 1

Syaikh Abdul Aziz Marzuq Ath-Tharifi
2022 · Book · Open Access

Buku ini berbicara tentang akar konflik akidah di Khurasan. Khurasan sendiri sebuah kota tua di Persia. Kota ini menjadi pusat dan basis interaksi antara akidah salaf dengan ilmu kalam (Filsafat). Akidah salaf diwakili oleh dua Ar-Razi, yaitu Abu Hatim Ar-Razi dan Abu Zur`ah Ar-Razi yang keduanya menerima akidah dari generasi sebelumnya, yaitu para sahabat, tabi`in, dan ulama-ulama salaf. Sementara ilmu kalam banyak terpengaruh Filsafat Yunani yang diwakili oleh aliran Murji’ah, Jahmiyah, Khawarij, Muktazilah, Rafidhah, dll. Dalam buku ini, penulis Syaikh Abdul Aziz Marzuq Ath-Tharifi memaparkan dengan gamblang akar konflik penyimpangan akidah di dunia Islam serta debat antara ulama salaf dan ahli kalam dalam beragam tema, seperti; Apakah iman bertambah dan berkurang, apakah Al-Qur`an makhluk, apakah surga dan neraka sudah diciptakan, dimanakah posisi surga dan neraka, apakah Allah bersemayam di atas Arasy, apakah Nabi melihat Allah di dunia, apakah Mizan, Shirat, Arasy, Telaga, Syafaat benar adanya. Juga, apakah siksa dan nikmat kubur dan kebangkitan benar adanya, wajibkah Taat kepada ulil amri, lalu bagaimana hukum belajar ilmu Kalam. Siapa dan apa dengan paham Jahmiyah, Muktazilah, Murjiah, Khawarij dan Rafidhah?, serta beragam tema menarik lainnya. Isyu-isyu akidah dan keislaman yang sering dihembuskan oleh kaum liberal dan sekuler masa kini hanyalah merupakan kelanjutan dari apa yang dihembuskan oleh aliran ahli kalam sebelumnya. Tak pelak, buku ini layak Anda miliki. - Pustaka Al-Kautsar Publisher - Dilarang keras mem-PDF-kan, mendownload, dan memfotokopi buku-buku Pustaka Al-Kautsar. Pustaka Al-Kautsar tidak pernah memberikan file buku kami secara gratis selain dari yang sudah tersedia di Google Play Book. Segala macam tindakan pembajakan dan mendownload PDF tersebut ada ilegal dan haram.

رسالة استحسان الخوض في علم الكلام Anjuran Mendalami Ilmu Kalam Kajian Karya Fundamental Imam Ahlussunnah Wal Jama’ah Al-Imâm Abul Hasan al-Asy’ari (w 324 H)

Dr. H. Kholilurrohman; MA
2022 · Book · Open Access

Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah atas Rasulullah. Sesungguhnya ilmu mengenal Allah dan mengenal sifat-sifat-Nya adalah ilmu paling agung dan paling utama, serta paling wajib untuk didahulukan mempelajarinya atas seluruh ilmu lainnya, karena pengetahuan terhadap ilmu ini merupakan pondasi bagi keselamatan dan kebahagiaan hakiki. Ilmu ini dikenal juga dengan nama Ilmu Ushul, Ilmu Tauhid, Ilmu Aqidah dan Ilmu Kalam. Dalam sebuah hadits Rasulullah menyebutkan bahwa dirinya adalah seorang yang telah mencapai puncak tertinggi dalam ilmu ini. Beliau bersabda: أنَا أعْلَمُكُمْ بِاللهِ وَأخْشَاكُمْ لَهُ (رَوَاهُ الْبُخَارِيّ) “Saya adalah orang yang paling mengenal Allah di antara kalian, dan saya adalah orang yang paling takut di antara kalian bagi-Nya”. (HR. al-Bukhari). Dengan dasar hadits ini maka Ilmu Tauhid sudah seharusnya didahulukan untuk dipelajari dibanding ilmu-ilmu lainnya. Dalam al-Qur’an Allah berfirman: فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ (سورة محمد: 19) “Maka ketahuilah (wahai Muhammad) bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan mintalah ampun bagi dosamu juga bagi seluruh orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan”. (QS. Muhammad: 19). Dalam ayat ini Allah mendahulukan perintah mengenal tauhid di atas perintah Istighfâr. Hal ini dikarenakan bahwa mengenal Ilmu Tauhid terkait dengan Ilmu Ushul yang merupakan dasar atau pokok-pokok agama, yang karenanya harus didahulukan, sementara mengucapkan Istighfâr terkait dengan Ilmu Furu’ atau cabang-cabang agama. Tentunya tidak dibenarkan bagi siapapun untuk melakukan istighfar atau melakukan kesalehan lainnya dari amalan-amalan furû’ jika ia tidak mengetahui Ilmu Tauhid atau Ilmu Ushul. Karena bila demikian maka berarti ia melakukan kesalehan dan beribadah kepada Tuhan-nya, sementara ia sendiri tidak mengenal siapa Tuhan-nya tersebut. Oleh karena itu dalam banyak ayat al-Qur’an Allah telah memerintahkan manusia untuk mempergunakan akalnya dalam melihat keagungan penciptaan-Nya hingga dapat mengenal tanda-tanda kekuasaan dan sifat-sifat-Nya. Seperti dalam firman-Nya: أَوَلَمْ يَنْظُرُوا فِي مَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ (سورة الأعراف: 185) “Tidakkah mereka melihat pada kerajaan langit-langit dan bumi?!” (QS. al-A’raf: 185). Dalam ayat lain Allah berfirman: سَنُرِيهِمْ آَيَاتِنَا فِي الْآَفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ (سورة فصلت: 53) “Akan Kami perlihatkan kepada mereka akan tanda-tanda kekuasaan Kami di segala ufuk juga tanda-tanda kekuasaan Kami pada diri mereka hingga menjadi jelas bahwa Dia Allah adalah al-Haq”. (QS. Fushilat: 53). Objek bahasan dari Ilmu Tauhid ini adalah berpikir tentang makhluk untuk dijadikan bukti akan adanya al-Khaliq. Dalam satu pendapat disebutkan tentang definisi Ilmu Tauhid bahwa ia adalah salah satu disiplin ilmu yang membahahas tentang nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya serta segala perbuatan-Nya. Juga membahas tentang keadaan para makhluk; dari bangsa Malaikat, para Nabi Allah, para Wali Allah, para Imam, penciptaan makhluk, dan tentang kehidupan di akhirat kelak. Pembahasan hal ini semua didasarkan kepada argumen-argumen yang telah ditetapkan dalam Islam, bukan dibangun diatas dasar-dasar pemikiran filsafat. Karena dasar pemikiran kaun filosof dalam pembahasan mereka tentang Tuhan, para Malaikat dan masalah lainnya, hanya bersandarkan kepada pemandangan logika semata. Dalam pada ini mereka menjadikan akal sebagai pondasi bagi ajaran agama. Sama sekali mereka tidak melakukan sinkronisasi antara logika dengan teks-teks yang dibawa oleh para Nabi. Adapun para ulama tauhid dalam membicarakan masalah keyakinan tidak semata mereka bersandar kepada akal. Namun akal diposisikan sebagai saksi dan bukti akan kebenaran apa yang datang dari Allah dan yang dibawa oleh para nabi tersebut. Dengan demikian para ulama tauhid ini menjadikan akal sebagi bukti, tidak menjadikannya sebagai pondasi bagi ajaran agama.

PEMIKIRAN ILMU KALAM Dari Klasik Sampai Kontemporer

Ahmad Musadad; S.H.I.; M.S.I.; Mustaniroh; S.E.Sy.; M.E.; dan Umi Indasyah Zahro; S.E.; M.A.
2022 · Book · Open Access

Sebagaimana diketahui bahwa ajaran agama Islam adalah ajaran yang sempurna. Letak kesempurnaannya adalah bagaimana ajaran dalam Islam telah mengatur dan menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia, baik aspek aqidah, syariah, dan akhlak. Hal ini terekam dalam sebuah hadis nabi yang riwiyatkan oleh Umar bin Khattab, ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam didatangi Malaikat Jibril yang menanyakan tentang tiga hal, yaitu: Apa itu iman? Apa itu Islam? Apa itu ihsan? Rasulullah kemudian menjawab dengan jawaban yang dikenal sekarang dengan rukun Iman rukun Islam dan definisi ihsan. Jawaban Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tersebut dalam konteks ilmu pengetahuan keislaman menjadi objek kajian dalam ilmu aqidah/ilmu kalam, ilmu fiqih, dan ilmu akhlak/ilmu tasawuf. Kajian dalam ilmu kalam mencakup hal-hal yang berkaitan dengan keyakinan akan sesuatu yang ghaib, baik pada zaman azali maupun zaman akhir yang semuanya telah diajarkan di dalam Al-Qur’an dan hadis. Pemahaman ulama akan ayat-ayat dan hadis tentang aqidah dan keimanan ini menjadi diskursus dalam kajian ilmu kalam. Dari pemahaman ini pula lahirlah berbagai macam aliran atau mazhab dalam ilmu kalam, seperti Mu’tazilah, Khawarij, Syi’ah, Qadariyah, Jabariyah, Ahlussunnah wal Jamaah, dan lain sebagainya

FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM Kajian Tokoh-Tokoh Pemikiran Islam

Suprapno; M.Pd.I.
2022 · Book · Open Access

Pendidikan dan kehidupan manusia merupakan dua hal identik yang tak bisa dipisahkan diantara satu sama lain, di ibaratkan sama dengan dua mata pisau yang saling membutuhkan. Hubungan keduanya ibarat tubuh dengan jiwa manusia, jiwa berpotensi menggerakkan tubuh, sementra kehidupan manusia digerakkan oleh “bandul” pendidikan menuju tujuan hidup yang didambakan. Dengan pendidikan, manusia memperoleh wawasan pengetahuan dari mana asal usul kehidupan dan kemana tujuan hidup manusia itu sendiri, serta juga dapat kejelasan orientasi kehidupannya. Tanpa pendidikan, bisa dipastikan manusia akan kehilangan ruh penggerak-penggerak kehidupannya, ibarat kapal sedang berlayar tanpa kompas. Namun kenyataannya sehari-hari pendidikan di negeri berkembang seperti indonesia ini masih jauh dari harapan dan bahkan subtansinya tercabut akarnya yang seyogyanya memanusiakan manusia. Terbukti output pendidikan kita banyak yang berpibadi kerdil, gagap dan buta dalam melakoni hidup, bingung dan kaku dalam bersikap, ceroboh dalam bertindak, bruntal dan nakal dalam bergaul, suka tawuran, terlibat seks bebas dan bahkan terjerat narkoba. Krisis inilah yang kemudian memanjangkan bangsa kita dalam kata panutan di segala bidang, multidimensi. Bayangkan dari fenomena tersebut, semoga kiranya buku ini layak untuk dijadikan sebagai sala satu solusinya. Buku ini membahas persoalan kehidupan manusia sebagai hamba Allah SWT.