Lewati ke konten utama
Beranda / Penulis

Profil penulis

Muhamad Afif Bahaf

2 karya publik ditemukan.

2022: 2

Akhlak Tasawuf

2022 · Book · Koleksi Perpustakaan

Ilmu akhlak berperan sebagai media atau lebih tepat sebagai katalisator yang memberi kesempatan seseorang memiliki ruang untuk menjadikan tingkalakunya lebih baik, sekalipun tidak memberikan jaminan kepada orang yang mempelajarinya akan menjadi orang yang berakhlak baik. Mungkin saja ilmu akhlak tidak menjamin orang yang mempelajarinya secara otomatis akan berakhlak baik, tetapi setidaknya ilmu akhlak memberikan pengetahuan tentang yang baik dan yang buruk. Ilmu akhlak juga menunjukkan kepada orang yang mempelajarinya bukan hanya tahu apa yang baik dan apa yang buruk, tetapi juga menunjukkan apa akibat dari kebaikan dan keburukan bagi yang menjalankan atau meninggalkannya. Ilmu akhlak pun bukan hanya sekedar menjadikan seseorang memiliki pengetahuan tentang yang baik dan buruk, tetapi juga menyadarkan seseorang akan apa yang harus dilakukan dan apa yang mesti ditinggalkan untuk keselamatan hidupnya, dan juga agar dapat mencapai tujuan hidup yang hendak dicapai. Selain itu, ilmu akhlak juga dapat menjadi stimulus bagi jiwa untuk melakukan penilaian terhadap dirinya sendiri, dan sekaligus menjadi pendorong bagi jiwa-jiwa yang memiliki kemauan untuk membenahi dan memperbaiki kebeningan dan kejernihannya. Ibarat matahari di siang hari, ilmu akhlak dapat menunjukkan manusia segala sesuatu yang ada di sekelilingnya terlihat secara jelas, baik itu yang baik maupun yang buruk, sehingga mudah bagi manusia untuk memilah dan memilih yang baik dan yang buruk, atau seperti bulan dan bintang di malam hari, ilmu akhlak menjadi petunjuk arah, sehingga manusia dapat mengetahui kemana arah Timur, Barat, Utara dan Selatan, sehingga manusia tidak tersesat dalam perjalanannya.

Ilmu Perbandingan Agama

2022 · Book · Koleksi Perpustakaan

Ilmu Perbandingan Agama adalah suatu cabang ilmu pengetahuan yang berusaha untuk memahami gejala-gejala keagamaan dari suatu kepercayaan dalam hubungannya dengan agama lain. Pemahaman ini meliputi persamaan juga perbedaan.3 Definisi yang hampir serupa juga dikemukakan oleh K. Sukardji yang menjelaskan bahwa Ilmu Perbandingan Agama adalah Ilmu yang mengkaji sejumlah agama (beberapa agama) dengan berbagai aspkenya untuk mengetahui persamaan dan perbedaannya satu sama lain, secara keseluruhan atau pada masalah-masalah tertentu menurut azas, sistem dan metode tertentu yang dilakukan dengan teliti.4 Karena berimplikasi kepada komparasi inilah kemudian ada sarjana yang mendefinisikan Ilmu Perbandingan Agama sebagai ilmu yang membandingkan asal-usul, struktur dan ciri-ciri dari berbagai agama dunia, dengan maksud untuk menentukkan persamaanpersamaan dan perbedaan-perbedaannya yang sebenarnya, sejauh mana hubungan antar satu agama dengan agama-agama yang lain, dan superioritas dan inferioritas yang relatif apabila dianggap sebagai tipe-tipe. Sekalipun analisis komparatif tidak dapat terhindarkan dalam kajian Ilmu Perbandingan Agama, tetapi kajian komparatif bukanlah misi utama dari kajian ilmu ini karena misi utamanya tidak lain mengajarkan hal-ihwal yang berkaitan dengan agama. Tentang hal ini, Hasbullah Bakry menjelaskan bahwa Ilmu Perbandingan Agama mengajarkan tentang agama-agama, baik yang ada penganutnya di negeri kita ini atau tidak, baik yang disebut missionary religions (ajaran agama untuk disiarkan bagi semua orang), maupun non-missionary religions (ajaran agama yang tidak untuk disiarkan bagi semua orang). Jadi, sebenarnya kata “perbandingan” yang terdapat dalam nama Ilmu Perbandingan Agama tidaklah mewakili substansi dari ilmu ini, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa istilah ini dalam perkembangannya telah dibajak guna kepentingan dan tujuan normatif tertentu. Para pembanding agama memperbandingkan agama dengan tujuan menentukan nilai normatif agama-agama dan menunjukkan keunggulan agamanya sendiri. Houston Smith pernah menyebut “comparative” merosot menjadi “competitive”. Di sini perbandingan agama menjadi “apologetik”. Untuk menghindari kerancuan ini, maka ada yang memakai istilah “Sejarah Agama-agama” dalam arti yang sama dengan “Religionswissenschaft”. Istilah yang terakhir inilah yang pertama kali digunakan oleh Max Muller pada tahun 1857 dengan tujuan agar disiplin baru ini terbebas dari filsafat agama dan terutama dari teologi, sehingga menjadi ilmu yang deskriptif, ilmiah, objektif. Diusahakan agar terhindar dari penilaian normatif dan subjektif.