Lewati ke konten utama
Beranda / Penulis

Profil penulis

INTAN SAFITRI

2 karya publik ditemukan.

2025: 2

analisa praktek jual beli bibit ikan gurame dengan akad salam perspektif fatwa DSN-MUI NO.05/DSN.MUI/IV/2000(studi di desa sribasuki)

2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Dalam praktik jual beli di Desa Sribasuki, Kecamatan Batanghari, Kabupaten Lampung Timur, masyarakat menerapkan akad salam yakni suatu bentuk transaksi di mana pembayaran dilakukan di awal khususnya dalam kegiatan penjualan bibit ikan gurame. Pada praktek penjualan bibit ikan gurame di Desa tersebut ada pembeli yang tidak membayar pada saat akad dilakukan dengan alasan belum mempunyai uang untuk membayarnya. Untuk menggali lebih dalam mengenai praktik transaksi bibit ikan gurame melalui akad salam serta meninjau kesesuaiannya dengan fatwa DSN-MUI Nomor 05/DSN-MUI/IV/2000, penulis melakukan penelitian lapangan. Studi ini memanfaatkan data primer yang diperoleh langsung dari para pelaku transaksi baik penjual maupun pembeli bibit ikan gurami serta data sekunder yang bersumber dari fatwa DSN-MUI tersebut dan berbagai referensi yang relevan dengan tema penelitian. Berdasarkan temuan penelitian, pelaksanaan akad salam dalam transaksi bibit ikan gurame di Desa Sri Basuki belum mencerminkan kesesuaian dengan ketentuan yang diatur dalam fatwa DSN-MUI Nomor 05/DSN-MUI/IV/2000. Salah satu poin yang menyimpang terletak pada aspek pembayaran, di mana dalam Pasal 2 ditegaskan bahwa pembayaran seharusnya dilakukan saat akad disepakati. Namun, kenyataannya, pembeli tidak menjalankan kewajiban tersebut pada waktu yang telah ditetapkan. Saran dari penelitian ini adalah sebaiknya pihak penjual jangan memberikan barang yang dipesan sebab belum menerima uangnya dan sebagai pembeli jika mempunyai tanggungan pembayaran hendaknya segera dibayarkan.

analisa praktek jual beli bibit ikan gurame dengan akad salam perspektif fatwa DSN-MUI NO.05/DSN.MUI/IV/2000(studi di desa sribasuki)

2025 · Book · Koleksi Perpustakaan

Dalam praktik jual beli di Desa Sribasuki, Kecamatan Batanghari, Kabupaten Lampung Timur, masyarakat menerapkan akad salam yakni suatu bentuk transaksi di mana pembayaran dilakukan di awal khususnya dalam kegiatan penjualan bibit ikan gurame. Pada praktek penjualan bibit ikan gurame di Desa tersebut ada pembeli yang tidak membayar pada saat akad dilakukan dengan alasan belum mempunyai uang untuk membayarnya. Untuk menggali lebih dalam mengenai praktik transaksi bibit ikan gurame melalui akad salam serta meninjau kesesuaiannya dengan fatwa DSN-MUI Nomor 05/DSN-MUI/IV/2000, penulis melakukan penelitian lapangan. Studi ini memanfaatkan data primer yang diperoleh langsung dari para pelaku transaksi baik penjual maupun pembeli bibit ikan gurami serta data sekunder yang bersumber dari fatwa DSN-MUI tersebut dan berbagai referensi yang relevan dengan tema penelitian. Berdasarkan temuan penelitian, pelaksanaan akad salam dalam transaksi bibit ikan gurame di Desa Sri Basuki belum mencerminkan kesesuaian dengan ketentuan yang diatur dalam fatwa DSN-MUI Nomor 05/DSN-MUI/IV/2000. Salah satu poin yang menyimpang terletak pada aspek pembayaran, di mana dalam Pasal 2 ditegaskan bahwa pembayaran seharusnya dilakukan saat akad disepakati. Namun, kenyataannya, pembeli tidak menjalankan kewajiban tersebut pada waktu yang telah ditetapkan. Saran dari penelitian ini adalah sebaiknya pihak penjual jangan memberikan barang yang dipesan sebab belum menerima uangnya dan sebagai pembeli jika mempunyai tanggungan pembayaran hendaknya segera dibayarkan.